[Update Banten] (BAGUS) Pemerkosaan Agama

(Dimuat di HU. Republika, Jum’at, 31 Agustus 2012; ini versi lengkapnya; sedangkan yang dimuat di koran itu sudah banyak mengalami editing)

Oleh Muhbib Abdul Wahab
Dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah dan Pascasarjana UMJ

Menjelang putaran kedua Pilkada DKI Jakarta isu dan sentimen SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) menjadi polemik berkepanjangan yang kontraproduktif. Sejatinya, rakyat calon pemilih sudah cukup cerdas untuk menentukan siapa pemimpin yang layak memimpin DKI selama lima tahun ke depan. Akan tetapi, demi kekuasaan, terkadang semua cara dihalalkan, termasuk isu SARA. Dan, demi kekuasaan pula, agama tidak jarang “diperkosa” atau diperalat untuk menjustifikasi dan kampanye politik. Mengapa syahwat merebut kekuasaan politik begitu “tega” memperkosa agama untuk kepentingan sesaat?

Agama di mata politisi dan petualang kekuasaan politik memang cukup “strategis” untuk dijadikan sebagai komoditas politik, setidak-tidak karena tiga alasan penting. Pertama, mayoritas umat beragama di tanah air, terutama Muslim, memiliki sentiment dan self of belongingness yang cukup kental dengan agama yang mereka yakini. Implikasinya, jika “disentuh” sentimen keagamaannya, mereka akan mudah “larut” dalam emosi dan perilaku politiknya yang berusaha mencari persamaan “identitas keagamaan” dengan calon yang akan dipilih.

Kedua, massa tradisional berbasis komunitas keagamaan tertentu memiliki persepsi dan harapan politik yang mudah diarahkan kepada sentimen keagamaan. Terlebih lagi jika calon yang akan dipilih menampilkan citra diri yang religius, dekat dengan ulama dan kyai, peduli kepada fakir miskin, dan sering menggunakan simbol-simbol keagamaan dalam berbagai acara dan momentum keagamaan. Implikasinya, rakyat sering menjadi “korban pencitraan” dan “pembodohan”, sehingga mereka memilih bukan atas dasar pertimbangan rasionalitas, tetapi dengan logika “jama’ah” yang tidak sepenuhnya rasional dan sehat.
Ketiga, dalil-dalil agama (kitab suci) seringkali menjadi “tameng dan benteng” untuk berlindung diri dari segala tuduhan isu SARA, padahal penggunaan ayat dari kitab suci seharusnya sesuai dengan konteksnya, bukan dalam rangka agitasi, provokasi, dan pelecehan atas nama SARA. Berlindung di balik “ayat” tentu paling “aman’, tetapi memperkosa ayat untuk tujuan politik sungguh tidak elegan atau “memperjual-belikan” ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.

Refungsionalisasi Agama
Menurut fitrahnya, manusia itu cenderung bertutur kata, bersikap, berpikir, berperilaku, dan berbuat yang baik dan benar. Agama apapun di muka bumi ini pasti menawarkan sistem nilai luhur sesuai dengan fitrahnya, berorientasi kepada kemanusiaan, menyerukan kebaikan dan kemaslahatan semua. Nilai-nilai moral, spiritual, sosial, dan kultural yang diberikan agama juga bersifat universal, seperti: ajaran kasih sayang, kejujuran, keselamatan, kedamaian, harmoni, toleransi, kesederhanaan, antikorupsi, antikekerasan, dan sebagainya.
Agama apapun di muka bumi ini pasti menawarkan sistem nilai yang luhur, berorientasi kepada kemanusiaan, menyerukan kebaikan dan kemaslahatan semua. Nilai-nilai moral, spiritual, sosial, dan kultural yang diberikan agama juga bersifat universal, seperti: ajaran kasih sayang, kejujuran, keselamatan, kedamaian, harmoni, toleransi, kesederhanaan, antikorupsi, antipembalakan liar, antitrafiking, dan sebagainya.

Oleh karena itu, agama harus dikembalikan kepada fungsi (refungsionalisasi) utamnya, yaitu sebagai sumber ajaran, nilai, moral dan motivasi. Agama sesungguhnya tidak pernah kering menginspirasi dan memotivasi terwujudnya solusi berbagai persoalan kemanusiaan dan bangsa. Yang membuat ajaran agama itu “diperkosa” atau disalahgunakan untuk kepentingan tertentu adalah pemeluk agama itu sendiri. Agama tidak “pernah bersalah”. Yang banyak melakukan kesalahan, terutama salah paham dan salah tafsir terhadap ajaran agama, adalah mereka yang memaknai dan mengamalkan ajaran agama itu sendiri.

Ketika berada dalam pengasingannnya di Perancis dan menyaksikan langsung betapa kota Paris itu tertib, rapi, bersih, ramah, dan nyaman, Muhammad Abduh (w. 1905), menyatakan bahwa saya menemukan Islam di Perancis, meskipun di sana tidak banyak dijumpai orang Islam. Sekembalinya ke Mesir, dan mendapati Kairo itu kumuh, kotor, banyak pencuri/pencopet, tidak aman dan tidak nyaman, ia kembali menyatakan bahwa di Mesir itu banyak orang Islam, tetapi hanya sedikit yang berperilaku Islami. Ia kemudian “berfatwa” bahwa Islam itu mundur dan terbelakang karena “terhalang” oleh perilaku umatnya itu sendiri (yang tidak Islami)!

Sebagai sumber nilai dan moral, agama bukan sekedar dibaca, dihayati, dan dimiliki, tetapi juga harus dimaknai untuk diamalkan atau diaktualisasikan dalam perilaku sosial yang bermoral. Muara nilai-nilai agama adalah kebaikan dan kemasalahatan umat manusia. Jika tidak, maka –meminjam ungkapan Alquran– kita termasuk pendusta agama. Allah berfirman: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Dia adalah yang menghardik (tidak menyayangi) anak yatim, dan menganjurkan memberi makan orang miskin…” (QS al-Ma’un [107]: 1-3). Yang dikecam ayat ini adalah orang yang beragama secara tidak jujur: menjadikan agama sekedar kedok atau identitas semata, tanpa dibarengi dengan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama.

Oleh karena itu, keberagamaan yang bermakna seharusnya membuahkan kesalehan sosial, integritas moral, dan apresiasi multikultural yang tinggi dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa. Ritualitas, moralitas, dan sosialitas keberagamaan, menurut Majid Irsan al-Kailani, pakar filsafat pendidikan asal Jordania, merupakan keniscayaan. Tidak disebut beragama jika seseorang tidak bermoral terpuji dan beramal sosial penuh dedikasi. Nabi Muhammad Saw. sendiri pernah menegaskan bahwa “Tidak dianggap melaksanakan salat, orang yang salatnya tidak mampu mencegah dirinya dari berbuat keji dan munkar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, nilai-nilai agama idealnya menjadi ruh (spirit) dan benteng moralitas bangsa. Sayangnya, pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan kita masih cenderung berhenti pada tataran kognitif-verbalistik, dan belum efektif menjadi ruh transformasi sikap (afektif), perilaku (psikomotorik), dan karakter (akhlak/moral) menuju manusia Indonesia yang sadar nilai-nilai moral dan memilih hidup mulia dan bermartabat terhormat, tidak mudah mencederasi saudara sebangsa dan setanah air dengan isu SARA, hanya karena kepentingan kekuasaan politik.

Jujur dan Cerdas
Carut-marut persoalan bangsa yang berlarut-larut ini tentu tidak terlepas dari masih rendahnya kontribusi umat beragama dalam memaknai dan memajukan bangsa. Jika semua warga bangsa merasa terpanggil untuk mendedikasikan dan mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran agamanya secara optimal dalam setiap momen kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, niscaya penjara tidak penuh sesak, KPK boleh jadi tidak perlu dibentuk, anggota DPR tidak ada yang terlibat kasus-kasus takbermoral yang mencoreng muka mereka sendiri.

Persoalannya memang terletak pada etos dan pola hidup beragama: warga bangsa ini belum semuanya cerdas dalam beragama. Cerdas beragama bukan “mengakali” dan “memperkosa” agama untuk menjustifikasi kepentingan pribadi dan politik. Cerdas beragama berarti menjadikan agama sebagai basis multikecerdasan: intelektual, emosional, moral, sosial, spiritual, kultural, dan sebagainya. Sebuah hadis Nabi SAW menyatakan: “Agama itu akal (kecerdasan), maka tidak dikatakan beragama orang yang tidak mendayagunakan kecerdasannya itu.” (HR. Muslim).

Bagaimana menjadikan agama sebagai basis multikecerdasan?
Menurut penulis, jujur dan cerdas beragama itu dapat dimulai dari komitmen yang kuat untuk bersikap dan berperilaku taat (sami’na wa atha’na) kepada nilai-nilai ajaran agama itu. Taat tidak berarti menjalankan ajaran agama secara membabi buta (taqlid), tetapi harus disertai pemahaman yang benar dan baik. Sikap taat ini dapat diwujudkan dengan menggali keteladan para Nabi atau tokoh pembawa agama itu yang pada intinya: setia kepada Tuhan, mau menanam “benih-benih moral kemanusiaan”, dan rela berkorban.

Ketaatan yang tulus dan jujur melahirkan sikap mau belajar (mempelajari kitab suci, ilmu pengetahuan, membaca alam dan gerak zaman), membuka diri, toleran, dan terus-menerus mengevaluasi atau introspeksi diri (muhasabah). Sikap ini pada gilirannya dapat memotivasi diri untuk berpacu dalam beramal kebaikan (Fastabul khairat), tidak sebaliknya: berlomba-lomba memanfaatkan jabatan, kekuasaan, dan kesempatan dalam kesimpitan.

Jika sikap beragama sudah “dihiasi” dengan istiqamah (konsistensi, kejujuran untuk terus berperilaku lurus dan bersih), maka godaan-godaan dunia, syahwat murahan, dan perilaku takbermoral dapat dijauhi. Beragama yang jujur dan cerdas seperti itu dapat melahirkan “rasa malu yang produktif dan arif”: malu mempunyai track record jelek sebagai pemimpin, malu masuk penjara, malu kepada anak cucu, malu kepada tetangga, malu menjadi benalu –meminjam istilah Dedy Mizwar– dan yang terpenting lagi malu kepada Sang Khalik. Hidup ini tidak lama dan tidak abadi. Alangkah nista dan malunya jika kita meninggalkan kehidupan ini dengan sederet catatan perjalanan yang memalukan dan memilukan!

Cerdas beragama adalah cerdas berbuat, bukan sekedar cerdas berdebat soal agama. Muara kecerdasan beragama adalah perbuatan nyata yang dapat memberikan arti bagi kemanusiaan, karena agama diberikan oleh Tuhan untuk hidup manusia melalui penghambaan diri kepada-Nya.
Model beragama yang jujur dan cerdas, seperti pernah diteladankan Sunan Drajat Paciran Lamongan, agaknya masih relevan direnungkan dan diaktualisasikan, yaitu: jujur dan cerdas beragama dengan keteladanan dan tindakan bermakna bagi banyak orang. Pertama, berilah tongkat kepada orang buta. Maksudnya, berilah pendidikan dan ajarahkan ilmu pengetahuan kepada orang yang belum berilmu. Sebab orang yang tidak berilmu boleh jadi akan tersesat dalam hidupnya. Ilmu memandu dan memudahkan jalan menuju tujuan hidup. Beragama yang cerdas harus dilandasi penggunaan kecerdasan intelektual dalam menalar ajaran agama.

Kedua, berilah tempat berteduh kepada orang yang kehujanan. Artinya, berilah perlindungan kepada siapapun yang teraniaya, membutuhkan bantuan hukum, advokasi, pembelaan terhadap hak-hak mereka. Yang sering terjadi, yang dibela bukan yang benar tetapi yang mau bayar. Supremasi dan keadilan hukum digadaikan demi kepentingan egoisitas dan syahwat duniawi. Beragama yang cerdas semestinya dibarengi dengan kecerdasan konstitusional dalam menegakkan keadilan hukum.
Ketiga, berilah makan kepada orang yang lapar. Banyak warga bangsa ini mengeluhkan sulitnya mencari sesuap nasi. Tidak jarang muncul ungkapan “nakal”: “Jangankan yang halal, mencari yang haram saja sulit!” Jika pandangan semacam ini sudah merasuki sebagian warga bangsa ini, maka anomali keberagamaan yang terjadi sungguh memperihatinkan. Pemerintah, tokoh agama dan masyarakat dituntut mampu meningkatkan kecerdasan sosial dalam beragama dengan mengusahakan agar jangan sampai ada warga yang lapar. Zakat, infaq, shadaqah, karitas, dan amal sosial seharusnya dapat dioptimalkan untuk menanggulangi kelaparan dan gizi buruk. Sebab orang yang lapar seringkali menjadi “bonek” (bondho nekat): nekat mencuri, merampok, memalak, membunuh, bahkan nekat bunuh diri. Keberagamaan yang jujur dan cerdas idealnya melahirkan kecerdasan sosial dalam bentuk empati dan bakti sosial.

Keempat, berilah pakaian kepada orang yang telanjang. Maksudnya, ajarkanlah rasa malu dan etika kepada orang yang tidak memiliki rasa malu dan tidak memiliki harga diri. Karena orang yang tidak memiliki rasa malu itu cenderung berbuat nista dan durhaka. Hal ini seharusnya memacu kita untuk memiliki kederdasan moral dalam beragama. Kita perlu senantiasa membudayakan saling menasehati, memberi kritik dan koreksi kepada siapapun, dan berusaha mencegah terjadinya pelanggaran moral. Cerdas beragama menuntut aktualisasi kecerdasan moral dalam bersikap dan berperilaku.

Walhasil, jujur dan cerdas beragama menghendaki agar kita dewasa dan arif bijaksana dalam beragama, tidak mudah memperkosa agama sendiri dan memanfaatkan isu SARA semata-mata untuk kepentingan kekuasaan. Dalam melihat dan merespon berbagai persoalan, termasuk perbedaan pendapat dan keyakinan, umat beragama semestinya berusaha untuk tidak mudah menghakimi dan menghukumi, melainkan mengedepankan qudwah (keteladanan) dan hikmah (kebijaksanaan, wisdom). Jujur beragama itu merupakan aktualisasi hati nurani yang terdalam. Jika etos jujur dan cerdas beragama semacam itu yang ditempuh dan dibudayakan, niscaya berbagai persoalan bangsa, seperti: kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, krisis moral, dan sebagainya, dapat dicarikan solusinya secara cerdas dan bermartabat. Wallahu a’lam bish-shawab!

Postingan Terbaru Lain-nya :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Forum WP ID

Translate This Site

Visitors Negeri Jiran

free counters

Yang SeDang BerKunjuNg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Welcome to Blog Banten Networks
-

Link Blog A-Z

A

4an25 4an25

B

bakulatz BAKULATZ

C

cahjawi Cahjawi - Coretan Bocah Jawi

D

dhahnd371 Dhand's Blog

E

syechanbaraqbahean baraqbah ⠊

F

fdhly Fdhly

G

gabanproduction Gaban Production

H

halamanputih Halamanputih

I

zonaiam iam – Zona yang sepertinya NORMAL

J

jurnalmasbro Jurnal Mas Bro

K

kangjava Kangjava

L

labkomputerku labkomputerku

M

mabrurisirampog mabrurisirampog

N

nalurisendu Nalurisendu

O

oomguru. Oomguru

P

pagi2buta pagi2buta

R

rhakateza Rhakateza's Weblog

S

setiaonebudhi setiaonebudhi

T

terlampau Terlampau Site

U

V

W

wahyuchandra wahyuchandra

X

Y

yuni1980 Yuni1980 Blog

Z

%d bloggers like this: