Biar Ada Tablet, Buku Tetap Digemari

Saat ini perangkat mobile seperti ponsel cerdas dan komputer tablet sudah mengakomodasi kebutuhan para kutu buku. Mereka bisa membaca buku atau artikel melalui tablet dengan berbagai aplikasi penunjang.

Memang ada orang-orang yang suka memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk menyerap berbagai informasi. Salah satunya adalah dari kalangan selebritas, DJ Delizious Devina.

DJ yang pernah berkolaborasi dengan Duo Maia ini mengaku lebih suka membaca artikel di tablet terutama saat traveling untuk keperluan pekerjaan. “Saya memilih membaca di tablet untuk menghabiskan waktu di jalan, sekaligus bisa tambah wawasan,” tutur wanita yang selalu fashionable ini kepada Vista.

“Banyak artikel menarik yang aku baca. Biasanya aku membaca artikel-artikel musik dan seputar musisi. Termasuk membaca artikel mengenai DJ-DJ internasional, supaya tetap updated,” kata wanita yang memiliki profesi sebagai DJ ini.

Seberapa lama wanita memesona ini bisa bertahan membaca di layar tablet? “Soal waktu membaca sangat tergantung dari lama perjalanan,” kata Devina yang termasuk betah membaca.

Ini adalah satu fakta, bahwa pembaca makin dimudahkan dengan teknologi. Meski demikian, keberadaan tablet dinilai belum menggeser buku cetak. Buku tetap akan digemari setidaknya dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang, karena menyangkut soal kultur masyarakat dan loyalitas pada buku cetak. Itulah penilaian seragam novelis fenomenal Andrea Hirata dan Caroline, dari Mizan Publishing.

“Saya masih yakin, segala bacaan dalam bentuk cetak masih terus punya peminat loyal, meskipun makin ke depan pasti akan tergerus oleh generasi yang terpengaruh perkembangan teknologi,” kata Caroline.

Sementara Andrea Hirata memandang, pertanyaan apakah buku cetak akan tergeser tablet, sebenarnya sederhana tapi bisa dijawab secara mendalam. Ini karena pertanyaan tersebut terkait kultural, karakter serta evolusi suatu masyarakat.

“Tetapi apakah kita sekarang sudah mencapai pada tahap technology-oriented? Menurut pendapat saya, kita ini belum teknologi orientif,” kata Andrea saat dihubungi Vista.

Menurutnya, masyarakat masih punya hubungan-hubungan kultural dengan buku konvensional. “Bahkan lebih spesifik lagi masih punya hubungan emosional dengan buku konvensional. Kita masih senang memegang buku dari pada memegang Kindle,” jelasnya.

Penulis novel “Laskar Pelangi” ini pun bercerita, dulu ketika masih tinggal di Amerika Serikat ia mencoba membiasakan diri membaca dari Kindle. “Tapi ternyata saya tidak senang,” kata penulis kelahiran Belitung ini.

Andrea tak bisa memungkiri, generasi mendatang akan berorientasi dan merasa nyaman dengan teknologi. Tetapi, ia yakin, di masa mendatang buku tetap akan diminati banyak orang. Ini karena adanya hubungan emosional terhadap buku konvensional.

“Hubungan emosional yang maksudkan adalah kita masih bisa merasakan ‘bau’-nya, tekstur kertas, warna warni sampulnya, gesekan kertas dengan kulit tangan saya, usaha membuka lembar demi lembar, usaha menata buku di rak sesuai tebal tipisnya,” katanya.

Bahkan lanjutnya, “kita akan kehilangan saat buku dipinjam dan tidak dikembalikan. Begitu pula saat menyaksikan perubahan warna buku dari cerah sampai kusam lantaran dimakan usia.”

“Kalau melihat buku sudah berubah warna kekuning-kuningan, saya merasa buku itu makin berwibawa. Padahal bukunya sama tapi auranya beda kalau sudah tua. Mungkin karena saya termasuk pembaca sentimentil, sehingga memutuskan untuk mencintai buku konvensional,” ujarnya.

Soal rasa tidak nyaman membaca dengan Kindle, Caroline menuturkan, sangat tergantung pada kebiasaan seseorang. Anak-anak zaman sekarang yang dibiasakan dengan segala sesuatu bersifat elektronik, pada masa mendatang mereka akan lebih nyaman dengan bacaan yang tersaji di perangkat tersebut.

“Tetapi kalau untuk kalangan konvensional ataupun kolektor pasti lebih senang dengan bacaan yang tersaji secara fisik. Mereka tidak terpengaruh teknologi secanggih apapun,” tambah Caroline.

Andrea Hirata sependapat, bahwa teknologi tidak bisa dibendung dan perubahan pasti terjadi. Suatu saat buku elektronik akan subur dan menggerus buku konvensional.

Sekarang saja, lanjut penulis novel “Sang Pemimpi”, ada bukunya yang baru akan diterbitkan tahun depan tapi sudah dijual di Amazon.com untuk pasar Eropa. “Itu artinya, di luar sana sudah sedemikian kuatnya kehadiran buku non-konvensional ini. Kehadiran e-book di Indonesia saat ini memang belum signifikan, tapi saya melihat penerbit konvensional sudah mulai deg-degan,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi masalah itu, lanjut Andrea, para penerbit harus mulai membangun kompetensi di bidang online. Sebab, jika terlambat mereka terancam gulung tikar.

“Kalau untuk pembaca, saran saya tidak perlu terpengaruh dengan kondisi apapun. Masyarakat harus tetap membaca dengan cara online maupun konvensional. Kita harus menyuburkan minat baca,” tandasnya.

Sedangkan kalangan penulis tak perlu berkecil hati pada fenomena ini yang justru membuat pembajakan makin mudah. Tetap berkreativitas, karena setiap kreativitas pasti menemukan jalannya sendiri. “Anda jangan pernah berorientasi pada income. Kalau orientasinya ke situ, lebih baik bisnis saham saja,” katanya.

Di sinilah pentingnya tetap berkarya, berpikir positif. Ia berharap hukum semakin ditegakkan dan apresiasi masyarakat juga tambah bagus. “Saya yakin buku konvensional masih akan bertahan di Indonesia hingga 10 tahun ke depan,” pungkas Andrea.

Senada dengan Andrea, Caroline mengatakan Mizan Publishing tidak bisa memungkiri adanya fenomena membaca buku lewat tablet. “Untuk itu, kita juga harus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Kita tetap mengakui saat ini masuk era digital. Kita tidak bisa idealis tetap mempertahankan tetap mencetak [buku],” katanya.

Mizan tetap akan mengikuti perkembangan tanpa meninggalkan percetakan. “Selain tetap akan menerbitkan buku secara cetak, kita juga mulai menerbitkan e-book,” jelas Caroline.

Antisipasi lain, pihaknya sudah mulai melakukan strategi pemasaran khusus yang cetak dengan cara “print on demand”. Jadi, hanya akan mencetak buku berdasarkan permintaan yang sudah masuk. “Ini kita lakukan supaya tidak terjadi kerugian,” tambahnya.

Caroline mengatakan, sekarang ini penurunan cetak sudah mencapai 30 persen. “Dulu, kita masih berani mencetak buku sampai 5.000 eksemplar, tapi sekarang paling tinggi 3.000 eksemplar. Kalau 3.000 buku sudah habis, baru kita cetak lagi,” lanjutnya.

Tapi ada perkecualian, khusus untuk penulis-penulis besar seperti Dewi Lestari atau Andrea Hirata yang setiap bukunya memiliki “print on demand” tinggi, bisa dicetak hingga puluhan ribu eksemplar.

Sampai saat ini, novel-novel tema percintaan masih memegang rekor tertinggi yang paling diminati masyarakat.

Mizan juga menyiapkan antisipasi lain dengan membuat portal-portal berita yang bisa untuk mengakses buku secara online. “Sebab menurut kita, bisnis percetakan di Indonesia masih aman minimal 5 tahun ke depan,” tutur Caroline.

Ia sendiri lebih suka membaca buku konvensional. “Selain termasuk orang konvensional, saya lebih cepat lelah kalau membaca buku digital, karena cahayanya,” ujarnya.

Baginya, membaca buku lewat tablet juga butuh energi listrik. “Yang namanya barang elektronik pasti ada dampak-dampak negatif yang keluar dari situ dan berpengaruh ke tubuh kita,” tandasnya. (Iwan S/Marmi Panti Hidayah)

sumber dipostkan kembali oleh ensiklopebanten.wordpress.com

Postingan Terbaru Lain-nya :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

" />

Twitter Admin, Klik Ya :)

  • Fiksi Mini: "Yuk" Suami: "Mah, yuk!" Istri: "Yuk." TAMAT 😅 1 hour ago

Kalender

New My Visitors


WELCOME FRIEND
visit counter

Forum WP ID

Translate This Site

Visitors Negeri Jiran

free counters

Yang SeDang BerKunjuNg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Welcome to Blog Banten Networks
-

Link Blog A-Z

A

4an25 4an25

B

bakulatz BAKULATZ

C

cahjawi Cahjawi - Coretan Bocah Jawi

D

dhahnd371 Dhand's Blog

E

syechanbaraqbahean baraqbah ⠊

F

fdhly Fdhly

G

gabanproduction Gaban Production

H

halamanputih Halamanputih

I

zonaiam iam – Zona yang sepertinya NORMAL

J

jurnalmasbro Jurnal Mas Bro

K

kangjava Kangjava

L

labkomputerku labkomputerku

M

mabrurisirampog mabrurisirampog

N

nalurisendu Nalurisendu

O

oomguru. Oomguru

P

pagi2buta pagi2buta

R

rhakateza Rhakateza's Weblog

S

setiaonebudhi setiaonebudhi

T

terlampau Terlampau Site

U

V

W

wahyuchandra wahyuchandra

X

Y

yuni1980 Yuni1980 Blog

Z

%d bloggers like this: