[Cerpen] BENDERA PUTIH-PUTIH

Saya hanya sekedar mengedit seperlunya terhadap cerpen ini. Cerpen ini adalah salah satu cerpen terbaik, yang pernah saya adakan dalam sebuah lomba (sebagai panitia). Bacalah!!! Sungguh menggugah…

Oleh; Muhammad Iqbal

***
Pagi itu, asap kembali mengepul dari dapur rumah Aziz. Tiupan pada selongsong pipa besi yang digunakan Aziz untuk memicu bakaran api di bawah tungku, membuat mukanya terlihat mulai kusam akibat kepulan asap. Sebenarnya terlalu pagi untuk memulai aktifitas, karena keadaan sekitar masih gelap. Bahkan terlalu gelap untuk satu rumah tua yang berdiri di tengah kaki gunung terasing.

“Aziz, matahari belum muncul, nanti saja Ibu yang menyalakan kayu bakarnya, kamu shalat subuh dulu..” Jelas Ibunya lirih yang tiba-tiba berdiri di belakang Aziz.

“Biar Aziz aja Bu, Aziz udah shalat tadi. Tapi Ibu tau engga kenapa Aziz semangat pagi ini Bu?”. Aziz malah bertanya.
“Kenapa??! Ya Ibu engga tau…” Timpal Ibunya heran.
“Aziz kemaren main ke desa Bu, terus Aziz dengar katanya ini bulan Agustus, Ibu tau kan bulan Agustus ada apa Bu?”. Tanyanya lagi menguji.

“Ada apa Ziz??”. Tanya Ibu lagi sambil membantu Aziz menyusun kayu bakar.
“Yah Ibu, Agustus negara kita merdeka Bu, orang-orang di desa sana bilang sekarang tanggal 16 Agustus, katanya besok Indonesia merdeka Bu!!”. Jelasnya kegirangan sambil mengacungkan selongsong pipa besi di tangan kanannya.

“Sudahlah, emangnya mau ngapain kamu ini? Merdeka ya merdeka, tapi harus jelas maksudnya??”. Sepertinya Ibu kurang bersimpati dengan gagasan-gagasan Aziz.
“Aziz mau pasang bendera di depan rumah Bu.. Sama kayak orang-orang di desa, berarti kita menghormati negara kan Bu??”. Jelasnya singkat dan berapi-api.

“Bendera dari mana Ziz? Kita ga punya bendera merah putih.. beli itu ya kita kan ga punya uang, lagian kita tinggal terlalu jauh dari orang-orang yang biasa memasang bendera itu. Ga akan ada yang memperhatikan kalau kita ikut memasang bendera… Sudahlah..!!”. Timpal Ibu pesimis sambil sesekali memeriksa nasi yang sedang dimasak.

“Ya udah, biar Aziz cari sendiri benderanya Bu!! Assalamu’alaikum!!” tegasnya penuh kecewa sambil berlari membanting pintu dan bergegas menuju ladang menembus pagi yang masih buta kala itu.
“Istighfar Ziz…”

***

Sesampainya di ladang yang tak jauh dari rumahnya, Aziz hanya duduk termenung di gubuk tua peninggalan ayahnya. Merangkul kedua kakinya, atau sesekali hanya menggosok-gosokkan kedua telapak tangan karena udara menjelang pagi masih terlalu dingin. Sementara gurat kekecawaan masih tampak di wajahnya. Dalam lamunannya, Aziz mengumpati Ibu yang tak mengizinkannya memiliki bendera.

Namun, kekecewaan Aziz mulai sirna bersamaan dengan kabut gunung yang perlahan terkikis cahaya pagi. Dan otak kanannya mulai bekerja untuk mencari ide agar dia dapat memiliki sebuah bendera merah putih yang nantinya akan dipasang di depan rumahnya.

“Aku bakal buat Ibu bangga dengan memasang bendera,” begitu benaknya berbisik.

Tak membutuhkan waktu lama, tiba-tiba seukir senyum tampak di wajah Aziz. Rupanya ide itu telah menghampirinya, dan ia cukup merasa senang dengan rencana yang akan dilakukannya hari ini. Tapi ia memutuskan untuk tetap duduk sejenak di gubuk tua itu, walaupun ingin bersegera menelurkan ide cemerlangnya.

Sambil menunggu matahari benar-benar muncul dari balik gunung, pikiran Aziz kini menerawang jauh menembus langit yang masih gugup untuk bersinar. Gubuk tua ini mengingatkan Aziz pada Bapaknya, yang ketika Aziz berusia 5 tahun Bapak meninggalkanya karena tewas terjatuh ke dalam jurang ketika hendak mengambil buah kenari di tepiannya. Sejak bapaknya tewas itu, hanya Ibu yang merawat dan membesarkan Aziz. Dan kini, usia Aziz menginjak tahun kesepuluh, sementara kondisi Ibunya sudah cukup tua untuk merawat dan membesarkan Aziz hingga benar-benar dewasa.

***

Sinar matahari yang perlahan muncul dari balik gunung seketika membuyarkan lamunan Aziz. Ia terhentak sadar dari lamunan akan ayahnya, maka Aziz bergegas turun dari gubuknya dan berjalan menuju arah hutan yang cukup jauh untuk ditempuh. Dengan sebatang kayu berukuran sedang di tangan kanannya, dia mulai berjalan menyusuri jalan setapak.

“Bismillahirrahmanirrahim….” lirihnya.

Feeling-nya mengatakan bahwa ia harus segera menemukan pohon toras di tengah hutan itu. Sejenis pohon coklat yang memiliki banyak buah kecil yang bila buah itu dipecahkan, akan mengeluarkan cairan berwarna merah kental.

Aziz sesekali berlari agar segera sampai di tempat biasa pohon toras banyak tumbuh, napasnya mulai tersengal-sengal. Terkadang ia duduk sesaat di bawah pohon besar untuk beristirahat, lalu melanjutkan kembali perjalanannya jika nafasnya mulai teratur.

Suara derap langkah kakinya mengisi hutan bersama kicau burung yang bertengger di dahan-dahan tinggi. Hutan itu terlalu sepi untuk dilalui, namun tekadnya sudah bulat.

***

Pada hari dimana terik matahari berada tepat di atas kepalanya, akhirnya Aziz menemukan pohon toras. Keadaan pohon itu tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia mengambilnya bersama bapak, bahkan orang-orang desa pun biasa mengambilnya sebagai bahan pewarna pakaian.

Ia bergegas memanjat pohon yang tidak terlalu tinggi itu untuk mengumpulkan buahnya, buah pohon toras sendiri berukuran kecil pipih dengan kulit luar berwarna hijau.

Setelah dirasa cukup banyak terkumpul, ia memukul-mukulkan buah yang keras itu pada batu hingga cairan merah kentalnya keluar. Lalu menampung cairan merah itu di atas selembar daun yang lebar. Setelah cairan merahnya cukup banyak tertampung, tanpa berpikir panjang lagi Aziz membuka baju putihnya. Ia menyobek bajunya sendiri dengan golok yang biasa dibawanya untuk mencari kayu bakar hingga baju itu berukuran persegi panjang.

Tanpa ragu-ragu Aziz melumuri setengah bajunya dengan cairan merah dari buah pohon toras yang baru diambilnya, air mukanya menunjukkan keseriusan. Dan hasilnya, tidak tampak seperti mewarnai pakaian, namun jika melihat lebih teliti lagi secara keseluruhan, hasilnya lebih menunjukkan pada suatu pola. Ya, pola bendera merah putih.
Baju yang telah berubah menjadi bendera itu diikatkan pada sebatang kayu yang dibawanya sejak sebelum memasuki hutan. Kemudian, dia berlari cepat tanpa kenal lelah untuk keluar dari hutan ini sambil mengibar-ngibarkan bendera merah-putih dengan tangan kanannya. Hutan yang sunyi, kini menggema dengan teriakan Aziz yang berlari-lari tanpa memakai baju.

Merdeka…!!! Merdeka…!!! Merdeka…!!!
Larinya semakin cepat namun geraknya mulai tidak stabil, hingga…
Gubrakk!!!

Badannya terhempas ke tanah, karena tanpa disadari kakinya tersangkut sebatang cabang pohon yang menyebabkannya terjatuh.

“Aaahh…. Astaghfirullahal’adzim!!”. Aziz sedikit mengerang kesakitan.

Kakinya terluka, namun tidak begitu parah. Ia memutuskan untuk duduk menenangkan diri dan menghilangkan sedikit darah yang keluar dari kakinya dengan dedaunan.

Ibu pasti khawatir menunggu di rumah, aku harus segera pulang, tapi…

Dengan penuh semangat Aziz segera bangkit dan memegang kembali benderanya, lalu matanya memperhatikan sekitarnya untuk mencari-cari sesuatu. Aziz berputar-putar dan mulai mengumpulkan apa yang dicarinya, ia mengumpulkan kayu bakar untuk dibawa pulang.

Kini, tangan kanannya memegang seikat kayu bakar, sementara tangan kirinya memegang erat bendera merah-putih. Ia terus berjalan menyusuri kembali jalan setapak itu untuk kembali pulang, luka di kakinya membuat Aziz sedikit tersendat-sendat untuk berjalan.

***

Hari mulai gelap ketika Aziz baru keluar dari hutan, walau terlalu payah untuk terus berjalan, tapi ia harus segera menuju rumah dan menemui Ibunya.

Setibanya di depan rumah,

“Aziz… dari mana saja kamu nak? Magrib begini baru pulang. Dan ke mana baju kamu itu?”. Tanya Ibu yang telah lama duduk menunggu Aziz di kursi kayu di depan rumahnya.

Aziz belum bisa menjawab, napasnya masih tersengal-sengal. Ia menjatuhkan kayu bakar dan bendera yang telah lama dibawa-bawanya dan bergegas menuju dapur untuk mencari air minum sambil menghiraukan pertanyaan Ibu tadi. Setelah cukup meneguk beberapa gelas air, ia keluar rumah lagi dan mengambil bendera dan kayu bakarnya.

“Ini Bu, tadi Aziz cari kayu bakar di hutan. Baju Aziz… Biar nanti Aziz pakai baju bekas bapak aja Bu”. Jelasnya sedikit menutup-nutupi sambil memberikan seikat kayu bakar pada Ibu.
“Mau kamu apakan kain di tangan kirimu itu Ziz?”. tanya Ibunya menunjuk bendera Aziz.

“Coba Ibu liat…” Timpalnya singkat.
Dalam keadaan yang masih letih, Aziz mengambil benderanya dan mengikatkannya pada pagar kayu rumahnya dengan beberapa helai kulit bambu, hingga terpasanglah bendera itu.

Dengan cepat bendera yang baru terpasang itu berkibar terpukul angin, sambil berdiri tegap pada sang merah-putih, Aziz memberi hormat dengan meletakkan tangan kanannya di pelipis matanya.

“Ya Alllah.. berikan kedamaian pada negeriku, karena aku cinta negeriku….” batinnya bergumam.
Selesai semuanya, ia masuk ke dalam rumah untuk benar-benar beristirahat.
“Ibu mengerti apa yang kamu maksud Aziz…” seru Ibunya setelah memperhatikan apa yang Aziz perbuat tadi.

***

Malam mulai larut, tapi bintang tidak terlihat pada malam di mana Aziz harus beristirahat pulas. Rupanya awan mendung mengisyaratkan malam yang akan semakin hitam pekat oleh deras hujan. Tiba-tiba…
GLEGAARRR!!!!

Satu persatu kilat menghantam bumi, dan hujan pun turun perlahan dan semakin deras.

“Aziz, kamu harus istirahat, badan kamu panas..”. Terang Ibunya sambil mengusap wajah Aziz yang pucat dan matanya yang mulai mengantuk.
“Besok kita merdeka Bu??”. Lirih suara Aziz
“Ya sudahlah kamu tidur aja, biar Ibu temani kamu malam ini, di luar hujan deras dan kilatnya kencang…”. Seru Ibunya bersimpati.
“Besok merdeka Bu??”.

***

Malam semakin larut dan hujan semakin deras mengguyur bumi, di tengah kaki gunung itu kilat terdengar sangat memekakkakan telinga. Ibu hanya berharap dirinya dan Aziz akan baik-baik saja di tengah kondisi alam yang buruk itu. Namun akhirnya mereka pun terlelap dalam buai mimpi.

***

Pada pagi harinya, hujan tinggal menyisakan air yang menetes dari genteng rumah Aziz… Dan bumi yang tampak basah oleh tingkah alam pada malam harinya.

Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah kecil bilik rumahnya jatuh tepat di kedua mata Ibu. Ibu pun terbangun dan terkejut tak mendapati Aziz di sampingnya.

“Aziz… Aziz… “. Teriak Ibu ketika baru saja terbangun dari tidur.
Ibu mencari ke dapur, namun Aziz tak ada disana. Di kamar sebelahnya pun Aziz tidak ada. Bergegas Ibu berlari keluar rumah sambil berteriak,

“Aziz….!!!”.

Tiba-tiba teriak Ibu terhenti ketika berdiri tepat di pintu rumah, matanya memperhatikan tajam pada apa yang ada di hadapannya.
“Aziz, kenapa Nak?”. tanya Ibu yang tiba-tiba terenyuh melihat Aziz terduduk menangis sedu di bawah bendera yang terikat pada pagar kayu. Saat itu alam masih gugup terbangun karena kabut yang tebal.
“Aziz minta maaf Bu, sia-sia Aziz membuat bendera merah-putih dari baju Aziz dengan buah toras, tapi warna merahnya luntur kena hujan tadi malam Bu”. Terang Aziz menangis tersedu-sedu.

“Ibu cuma kasian sama kamu Aziz, hanya karena sebuah bendera kamu nekat masuk ke dalam hutan sampai kamu sakit, tapi akhirnya benderamu rusak. Ibu sudah bilang kemarin kalau kita ga perlu ikut-ikutan memasang bendera, merdeka ya merdeka tapi harus jelas maksudnya Ziz…” terang Ibu. Dan air mata Ibu pun tak kuasa terbendung melihat anaknya yang terduduk lesu melihat usahanya sia-sia.

“Ya Bu, Aziz ngerti semuanya… Bendera kita luntur jadi putih-putih… Berarti kita belum merdeka ya, Bu…!!”.

1 Comment (+add yours?)

  1. David
    Sep 05, 2012 @ 05:52:35

    wow.. patut dicontoh !!.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

" />

Twitter Admin, Klik Ya :)

  • Fiksi Mini: "Yuk" Suami: "Mah, yuk!" Istri: "Yuk." TAMAT 😅 1 hour ago

Kalender

New My Visitors


WELCOME FRIEND
visit counter

Forum WP ID

Translate This Site

Visitors Negeri Jiran

free counters

Yang SeDang BerKunjuNg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Welcome to Blog Banten Networks
-

Link Blog A-Z

A

4an25 4an25

B

bakulatz BAKULATZ

C

cahjawi Cahjawi - Coretan Bocah Jawi

D

dhahnd371 Dhand's Blog

E

syechanbaraqbahean baraqbah ⠊

F

fdhly Fdhly

G

gabanproduction Gaban Production

H

halamanputih Halamanputih

I

zonaiam iam – Zona yang sepertinya NORMAL

J

jurnalmasbro Jurnal Mas Bro

K

kangjava Kangjava

L

labkomputerku labkomputerku

M

mabrurisirampog mabrurisirampog

N

nalurisendu Nalurisendu

O

oomguru. Oomguru

P

pagi2buta pagi2buta

R

rhakateza Rhakateza's Weblog

S

setiaonebudhi setiaonebudhi

T

terlampau Terlampau Site

U

V

W

wahyuchandra wahyuchandra

X

Y

yuni1980 Yuni1980 Blog

Z

%d bloggers like this: