[Cerpen] LAPAR TERAKHIR

Saya hanya sekedar mengedit seadanya terhadap cerpen ini. Cerpen ini adalah salah satu cerpen terbaik, yang pernah saya adakan dalam sebuah lomba. Sungguh menyentuh… Bacalah!!!

Oleh Rahmi El-Jannati
***
“Ajiii…”
Kupanggil pemilik tubuh ringkih yang tak kalah ringkihnya denganku.
Tak ada jawaban.

Kuusap peluh yang membanjiri dahiku. Kupandangi ke sekeliling mencari-cari sosok itu. Ekor mataku berhasil menangkapnya sedang berdiri mematung di depan sebuah kantin bakso, yang cukup terkenal di wilayah Pasar Rebo ini. Matanya tak lepas dari mangkuk-mangkuk yang berisikan bakso sebesar kepalan tangan orang dewasa. Asapnya mengepul dari setiap mangkuk menebarkan rasa yang ingin segera terpenuhi bagi setiap yang menghirupnya. Mungkin perutnya kini sedang berteriak minta diisi, karena sedari pagi, ia hanya memakan sebungkus roti murah yang kami potong berdua. Dan segelas air putih.

Aku bangkit dari dudukku. Tempatku menaruh sampah-sampah plastik yang terbuat dari ayaman bambu tipis, masih melekat setia di punggungku. Aku hendak menghampiri Aji. Namun, baru beberapa langkah, aku terhenti, melihat adikku satu-satunya dihardik dengan kasar oleh sang pemilik kantin yang tiba-tiba keluar membawa alat yang digunakan untuk menyiduk kuah bakso.

“Sompreeet! Pergi sana! Bikin turun selera makan saja. Hush, pergi, pergi!” hardiknya dengan kasar, sekasar mengusir kucing kurus yang berhasil mencuri ikan goreng. Kumis baplangnya bergerak-gerak menutupi bibirnya yang hitam, pertanda ia seorang perokok berat. Perut buncitnya pun naik turun ketika mengacung-acungkan alat itu ke arah adikku.

Adikku yang malang, spontan mundur beberapa langkah karena takut. Sungguh pemandangan yang mengiris hati. Aku tidak ridha adikku diperlakukan seperti itu. Kupercepat langkahku untuk menghampirinya. Mata Aji mulai mengeluarkan kristal bening. Aku mencoba menegarkannya. Kutatap Si Baplang dengan sinis. Ia balik memelototiku.

“Heh, bocah ingusan, bilang sama adikmu itu, jangan datang-datang lagi kesini! Ngerti! Pembeli pada jijik ngeliatnya. Bisa-bisa omsetku turun gara-gara dia. Sudah, pergi, pergi…! Awas kalau kemari lagi. Kupatahkan batang hidung kalian.”

Kembali ia acungkan alat masak di tangannya. Suaranya menggelegar, membuat para pembeli disana spontan melirih ke arah kami, membuatku merasa malu tercoreng. Tapi sungguh, aku sudah kebal dengan kata-kata yang biasa kujumpai itu. Ada geram bergerumuh di hatiku saat ini.
Kugandeng Aji yang baru berusia empat tahun tersebut. Mengajaknya untuk segera pergi dari sana.

“Kak, Aji lapal… Aji mau yang bulat-bilat tadi.” Rengek Aji dalam isaknya yang kian menjadi.
“lya, Aji. Tapi kita harus meyetor sampah-sampah ini dulu. Nanti, kalau kita sudah dapat uang, baru kita bisa beli yang bulat-bulat itu, ya?” Aku mencoba meredakan tangisnya. Ia diam tak menjawab. Hatiku sungguh teriris. Hhh… Pedih, iba, marah, semuanya bercampur menjadi satu.

“Aji lapal kak…” ucapnya berulang-ulang.
Ah, susah juga memberi pengertian padanya. Aku hanya bisa diam mendengarkan lagu sendu yang bercampur derai air matanya itu. Matahari sebentar lagi akan beristirahat di barat sana. Cahayanya yang menyentuh awan menciptakan spektrum warna merah jingga yang menyebar luas di angkasa. Kami terus menapaki jalanan sempit. Menembus lorong-lorong gelap menuju suatu tempat. Pusat daur ulang sampah Mbah Kurni.

Yah, begitulah kehidupan kami. Menjadi pemulung sampah untuk bisa menghidupi diri, Setiap hari mulai dari pagi hingga matahari tepat di atas kepala, aku mencari sampah untuk mendapatkan upah. Meski tak seberapa. Yang penting bisa mengganjal perutku dan perut Aji. Agar penyakit perut bernama lapar itu bisa hilang untuk sementara. Kadang Aji ingin ikut membantuku, meski aku sudah melarangnya untuk tinggal di rumah saja.

Sebenarnya, rumah kami tak layak di sebut rumah. Lebih tepatnya mungkin gubuk rapuh dan reot, beralaskan tanah beratap injuk-injuk tua. Gubuk itu hanya aku dan Aji yang menghuninya.

Dulu, kami tinggal dengan abah. Namun beliau meninggal setelah dua hari Aji lahir ke dunia. Penyakit TBC-nya yang kronis telah menggerogoti habis paru-parunya. Abah sering batuk darah, badannya demam tinggi. Hingga subuh itulah detik terakhir kami bertemu dengan abah. Kematian abah bagai hujaman batu godam yang meruntuhkan ekonomi keluarga. Sejak saat itu, kehidupan kami semakin memilukan. Emak yang memang tak bekerja harus menjadi janda peminta-minta di Jakarta ini. Selalu dibawanya Aji dalam setiap gendongan ketika melakukan ‘pekerjaan’ itu. Agar, setiap orang yang melihat merasa iba dan memberikan kepingan receh pada emak.

Emak sakarang… entah berada dimana. Sudah dua tahun aku dan Aji tak melihat sosoknya yang mengeriput. Selama itu pula, kami tak merasakan sentuhan kasih seorang ibu. Kabar terakhir yang kudengar, emak diseret dan dimasukan ke dalam mobil patroli oleh Satpol PP, dibawa entah kemana. Yang kutahu, emak menghilang dan tak pernah kembali lagi.

***

“Akbar, dikit sekali penghasilanmu hari ini.” Ucap Mbah Kurni sedikit kecewa. Aku yang mendengarnya pun tak kalah kecewa. Tapi, mau bagaimana lagi? Kompetisi di kalangan pemulung sepertiku memang cukup ketat. Mbah Kurni mengeluarkan beberapa lembar uang dari lacinya.
“Maafkan Akbar Mbah.” Kataku pelan.

“Kalau saja sampah yang kau dapatkan tak menurun, tentu Mbah juga tak menurunkan upahmu hari ini.” Ucapnya sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Ya enggak apa-apalah Mbah. Makasih Mbah.”

Masih kuingat, sempat kubaca harga bakso Si Baplang tadi. Rp 8.500 per porsi. Aku menarik nafas panjang saat melihat uang di genggaman. “Mana cukup untuk membelinya, Aji?” Kataku dalam hati.

Kutemui Aji yang dari tadi nungu di luar kios sampah Mbah Kurni.
“Aji, uangnya enggak cukup untuk beli yang bulat-bulat itu. Beli roti saja, ya? Ntar di warung, Aji juga bisa beli Chiki. Besok mungkin kita baru bisa beli yang bulat-bulat itu.” Ucapku pelan, tertahan. Harap di sinar matanya berubah. Menguap menjadi kekecewaan. Tanganku menggapai rambutnya yang merah. Kubersihkan pula ingusnya bekas tangisnya tadi. Wajahnya bagitu kumal dengan debu-debu pasar. Kusentuh keningnya. Hei, badannya panas. Mungkin ia kecapean.
“Sudah, kita beli makanan yang lain saja. Kita pulang, yuk.” Nada suaraku berubah cemas. Mulut Aji membulat, manyun seperti kuncup mawar. Akhirnya ia menurut juga.

***

Sudah dua hari aku ‘bekerja’ tak di temani Aji. Ia sakit. Tubuh kurusnya panas sekali. la tak mau makan apapun. Yang ia mau hanyalah makanan lima huruf itu. BAKSO. Bakso Si Baplang. Pernah kutanyakan padanya, mengapa harus bakso Si Baplang yang ia inginkan? Karena wanginya lebih enak dari yang lain, katanya.

* * *

Hari ini aku berjanji akan membelikan Aji bakso yang ia maksud. Namun, setelah sampai di depan kantin besarnya, dan belum sempat kubuka mulutku untuk berbicara, Si Baplang sudah melotot mengerikan. Apa yang selanjutnya terjadi?

Si Baplang menyeretku sampai ujung jalan. Jari-jarinya yang berlemak masih bertengger di tulang kupingku.

“Pak, saya bukan mau minta-minta. Saya mau beli bakso bapak.” Rintihku lagi, mencoba membela diri. Si Brengsek Baplang itu malah tertawa keras.
“Mana ada kunyuk macam kau mampu membeli baksoku?”

Ya Allah, sombong benar ciptaan-Mu ini, jeritku dalam hati. Didorongnya tubuhku dengan kasar sampai tersungkur. Dihujaninya pula wajahku dengan air liurnya. Cih, amis sekali! Sebelum ia pergi, sempat kulihat senyum puas dari bibirnya. Aku mencoba berdiri. Perih menerjang dari luka lecet di sikutku. Kuputuskan untuk pulang.
Kubuka pintu itu. Terlihat tubuh Aji menggigil di bawah selimut tipis. Sinar matanya menyiratkan harapan yang tak jua meredup. Harapan yang tak mampu aku penuhi lagi.

“Kak, mana baksonya?” Suaranya bergetar.
Maafkan kakak… batinku, sambil menyentuh pipinya. Aku terisak di atas keningnya kini.

***

“Telah kusiapkan sebungkus bakso untukmu. Ambil saja. Tak usah kau bayar.” Ia keluar sambil menenteng sebungkus bakso komplit lalu menyodorkannya padaku. Tak kusangka, ia bisa berubah menjadi malaikat secepat itu. Kuterima bungkusan itu tanpa ragu-ragu.

“Sekarang pergilah. Jangan pernah kemari lagi.” Ucapnya seraya tersenyum. Dan lagi-lagi, aku tak dapat mengartikan senyumnya yang terkesan aneh. Tapi…aku sudah tak peduli lagi.

Kakiku berjingkrak-jingkrak menuju gubuk. Bangganya aku bisa menenteng sebungkus bakso Pondok Goyang Lidah untuk Aji-ku tersayang.
Setibanya di gubuk, segera kupindahkan bakso itu ke dalam mangkuk yang pinggirnya hampir berkarat. Kemudian membawanya ke samping Aji. Ia perlahan bangun dari tidurnya. Senyumnya mengembang dari ronanya yang pucat.

“Nah, Aji, dimakan, ya? Kakak mau cari uang lagi buat beli obat kamu.” Kusentuh rambut merahnya.
“Kakak mau?” tanyanya polos. Aku menggeleng.
“Untukmu saja, Aji. Biar kakak beli roti saja.”

Aku beranjak mengambil tempat sampah yang biasa kubawa di pundakku. Sebelum aku meninggalkanya, kuberikan senyum sayang ini padanya.
Di dalam sana, Aji masih mengaduk-aduk kuah bakso yang mengepul dengan penuh gairah.

“Akbaaar…. Akbar.” Teriak seseorang dari belakang. Kutoleh si pemilik suara. Ternyata Ramli, salah seorang staf cleaning service yang bekerja di kantin Si Baplang. Ia teman yang selalu menasihatiku untuk sabar sebagai rasa simpatinya pada nasibku. Ia menghampiriku dengan cepat. Nafasnya tersengal-sengal.

“Dari tadi Aku cari kamu, Bar!” ucapnya payah.
“Ada apa, Li? Kelihatannya penting sekali.”
“Bar, dengarkan Aku. Aku tak bermaksud bercanda. Hosh… hosh…”
“Iya, ada apa Li?” Aku mulai tak sabar.

“Bang Togar, bosku, atau yang biasa kau sebut-sebut Si Baplang itu, sudah memasukkan racun tikus ke dalam bakso yang ia berikan padamu. Aku tidak sengaja melihatnya, Bar. Tadinya aku tak ada perasaan apa-apa. Tapi lama-lama aku penasaran juga.” Ramli terbatuk-batuk, kemudian meneruskan ucapannya kembali.

“Setelah kudekati bungkusan itu, ada sebuah botol kecil yang ia taruh di sudut tembok. Ternyata itu racun tikus, Bar! Import dari luar negeri! Tak salah lagi, Bar! Bahaya kalau termakan. Bisa keracunan!”
Mataku terbelalak tak percaya.

“Bar, sumpah, swear! Kamu sudah memakannya?” Aku tak tak bisa mendengar lagi. Aku tak sanggup.
Racun tikus? Tidak!!!

Seakan ada yang menarik kasar seluruh urat nadiku. Persendianku lemas. Mataku melotot namun entah memandang apa. Kakiku yang telanjang membuat langkah besar, berlari secepat kilat. Tak kuperdulikan orang-orang yang bersumpah serapah karena tersenggol olehku.

Ajiii…

Aku belum bisa untuk tidak mendengar rengekan kecilnya. Aku belum bisa untuk tak membelai rambut merahnya lagi. Aku belum cukup tegar untuk kehilangan Aji…

Sudahkah terlambat?

Kubuka pintu dengan keras. Busa putih memenuhi mulut kecilnya. Aku hampir gila melihat pemandang itu. Tubuh Aji mengejang kencang.
“Tolooong…” teriakku parau. Berkali-kali. Namun tak ada jua yang datang. Ada sesuatu bergerak melalui setiap syaraf Aji. Terus… terus… hingga naik ke ubun-ubun. Dan…

“Ajiii…” jeritku merobek langit. Menjemput mendung yang berganti guntur di barat sana. Tangisku menyedak. Deras air mata tak mampu melukiskan perihku yang menganga. Aku merasa telah menjadi makhluk paling berdosa karena tak mampu menjaga amanah-Nya. Aku bodoh sebodoh-bodohnya membiarkan Aji memakan bakso itu. Membiarkan makhluk sombong itu menzalimi Aji. Aku menyesal. Sekelebat wajah abah dan emak tiba-tiba datang. Mereka turut kecewa dan menangis. Rasa bersalahku melangit. Ampuni aku Tuhan…

***

Sepi. Pondok Bakso Goyang Lidah itu lenggang tak berpenghuni. Tak ada pembeli, pun kepulan asap dari sana. Kudengar, pondok itu gulung tikar sejurus dengan merebaknya isu bakso berisi daging tikus dengan cepat di masyarakat.

Rupanya, racun tikus yang dimasukkan ke dalam bakso adikku dulu digunakan untuk meracuni tikus-tikus sebelum dicincang dan dimasak. Taktik Si Baplang memang berhasil merahasiakan semua ini. Sampai Ramli sendiri pun tidak tahu menahu tentang sesuatu terselubung itu. Namun sepandai-pandainya musang meloncat, pasti akan terjatuh juga.
Aku tak tahu pada siapa lagi aku harus mengadu. Tapi satu yang pasti. Semua telah kuserahkan pada Allah, Tuhan Tempat Bersandar.

Dari seberang jalan raya sana, kulihat orang-orang berlari mengerumuni sesuatu. Seorang dengan ciri-ciri kumis lebat, tertabrak mobil sedan kemudian dihantam mobil container dari arah yang berlawanan dengan kecepatan tinggi. Kepalanya pecah, ususnya terburai mengerikan. Bau menyengat menyebar cepat, tak wajar. Sebotol bir masih lekat dalam genggamannya.

Hei, bukankah itu… Si Baplang? Aku terhenyak dalam pekikan yang tertahan. Tuhan, keadilan-Mu telah datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

" />

Twitter Admin, Klik Ya :)

Kalender

New My Visitors


WELCOME FRIEND
visit counter

Forum WP ID

Translate This Site

Visitors Negeri Jiran

free counters

Yang SeDang BerKunjuNg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Welcome to Blog Banten Networks
-

Link Blog A-Z

A

4an25 4an25

B

bakulatz BAKULATZ

C

cahjawi Cahjawi - Coretan Bocah Jawi

D

dhahnd371 Dhand's Blog

E

syechanbaraqbahean baraqbah ⠊

F

fdhly Fdhly

G

gabanproduction Gaban Production

H

halamanputih Halamanputih

I

zonaiam iam – Zona yang sepertinya NORMAL

J

jurnalmasbro Jurnal Mas Bro

K

kangjava Kangjava

L

labkomputerku labkomputerku

M

mabrurisirampog mabrurisirampog

N

nalurisendu Nalurisendu

O

oomguru. Oomguru

P

pagi2buta pagi2buta

R

rhakateza Rhakateza's Weblog

S

setiaonebudhi setiaonebudhi

T

terlampau Terlampau Site

U

V

W

wahyuchandra wahyuchandra

X

Y

yuni1980 Yuni1980 Blog

Z

%d bloggers like this: