[cerpen] Semangat Zulfikar

Oleh: Rian Hidayat Abi El-Bantany
***
Jakarta-Kompak. Cacat, bagi sebagian orang mungkin hal ini menjadi halangan, namun tidak bagi Adnan, bocah berusia 10 tahun yang menyandang penyakit lumpuh sejak usianya menginjak tujuh tahun.
Kakinya sudah tidak bisa digerakan lagi, kursi roda menjadi teman sejatinya yang selalu menemaninya kemana pun ia pergi.
Walaupun begitu, bukan berarti ia tidak bisa berkarya, mengukir di arca sejarah peradaban, membuat karya yang bisa mengabadikan namaya. Cacat yang ia sandang, tidak menjadi halangan baginya, saat ini ia sudah membuat 5 buah novel anak yang cukup tebal, tulisannya pun sudah menyebar di berbagai majalah anak. Kakinya yang lumpuh, membuat Adnan betah berlama-lama di depan komputer. Selain itu, adnan juga belajar menjahit dan menghasilkan beragam desain pakaian.

“Perjuangan yang luar biasa.” Kometarku.
“Baca apa dik? Sepertinya serius sekali!” tanya seorang bapak berbaju koko, yang duduk di sebelahku di peron stasiun Pondokranji-Jakarta.
“Ini pak, perjuangan seorang anak penyandang cacat.’
“Oh… boleh bapak lihat korannya?” pinta bapak itu padaku.
“Silahkan.” Kataku sambil memberikan koran yang sedang kubaca.

Sebagai penjual koran atau pedagang asongan di stasiun Pondokranji, Jakarta, sudah banyak suka duka yang kualami. Kadang senang, kadang sedih, semuanya menjadi hiasan dalam hidupku.

Hari ini, keberuntungan belum memihak padaku. Daganganku baru laku lima buah koran, sebab hujan tak kunjung reda. Sudah satu jam aku menunggu, tapi hujan tampaknya tidak bersahabat hari ini. Padahal kalau koranku laris, rencananya uang hasil penjualannya akan aku gunakan untuk berobat ibuku yang sedang demam.

“Perjuangan yang patut diacungi jempol. Oia, harganya berapa dik?” kata bapak berbaju koko itu.

“Bapak mau beli?” kataku senang, “Cuma Rp 1.500,- kok.” Lalu bapak itu membayarnya dan kuucapkan terimakasih.
“Kamu tidak sekolah dik?” percakapan berjanjut.
“Tidak pak.”
“Kenapa”

“Saya tidak punya biaya pak, jadi saya tidak bisa sekolah. Tapi tidak apa-apa pak, ustad di dekat rumah saya pernah berkata bahwa untuk menjadi cerdas tidak hanya didapat di sekolah saja, saya bisa belajar dimana saja, saya bisa cerdas dimana saja, asal saya mau bersungguh-sungguh belajar, rajin membaca, rajin belajar. Dan saya meyakini kata-kata pak ustadz itu.” Kataku panjang lebar.

“Benar. Bapak senang mendengar kata-katamu. Kamu memiliki semangat hidup yang tinggi. Bapak doakan semoga kamu menjadi anak yang cerdas.”
“Amin.” Kataku menutup doa bapak yang baik hati itu.
“Oia, nama adik siapa?” tanya bapak itu.
“Zulfikar, pak. Nama lengkapnya Ahmad Zulfikar.”

***

Pembicaraanpun berakhir, akhirnya hujan reda juga dan ada kereta yang melintas jurusan Jakarta-Merak, lalu aku masuk dan menjajakan koranku sambil berteriak:

“Koran-koran-koran, berita hangat. Korannya pak! Koran bu! Koran-koran, musim penghujan tiba, Jakarta kebanjiran, anggota dewan korupsi, koran-koran. Sebuah sekolah ambruk karena bangunannya sudah tua. Koran-koran. Pertama dalam sejarah, presiden dilempari sepatu. Koran-koran, ada seorang pencuri motor, ketika motor itu hendak dibawa, ternyata mesin motor itu telah diganti oleh pemiliknya dengan mesin jahit. Koran-koran!”

Mendengar berita terakhir itu, para penumpang terlihat keheranan. Dan aku bisa memaklumi hal itu, karena berita terakhir itu adalah berita karanganku sendiri. Itu adalah salah satu teknikku menarik perhatian para penumpang.

“Koran dek, satu.” Pinta seorang penumpang berkemeja hitam, sepertinya dia pegawai kantoran yang belum mapan sehingga harus rela naik kereta. Kata pamanku sih, memang susah menjadi kaya kalau hanya mengandalkan pendapatan sebagai pegawai.

“Koran apa pak? Disini, ada Sindo, Republika, Kompas, majalah anak-anak juga ada.”
“Saya minta majalah anak-anak, majalah bobo ada nggak?”
“Oh, ada pak.”

Kemudian aku melanjutkan jualan, dari gerbong paling belakang hingga gerbong terdepan. Hari itu koranku laku setengahnya dan setelah kuperhitungkan untungnya, maka aku mendapat Rp 17.500. Dalam pikiranku terbesit, “mana cukup untuk berobat ibu.”

Walaupun sedikit aku harus tetap bersyukur, karena Allah masih memberikan rezekinya bagi siapa saja yang mau berusaha.

Susahnya mencari rupiah recehan terlihat jelas di kereta berkelas ekomoni ini, pengamen, pemulung, pedagang asongan dan peminta-peminta sudah menjadi pemandangan biasa sehari-hari dalam kereta ini. Mirip dengan pasar tradisional berjalan.

Sesampainya di rumah, aku disambut adik-adikku yang sangat kusayangi dan kucintai. Aisha’ dan Annisa, mereka masih kecil. Aisha’ berumur delapan tahun, sedangkan Annisa berumur enam tahun.

“Hore… penulis hebat kita sudah pulang,” sambut Aisha’ dan Annisa di depan pintu, yang sudah menunggu dari tadi. Mereka Memang yang paling tahu kapan kakaknya pulang.

“Penulis! Kalian ngomong apa sih? Bagaimana keadaan ibu?” tanyaku pada keduanya.
“Keadaan ibu mulai membaik kak.” Jawab Aisha’.

Sejak kematian ayah, ekonomi keluargaku terguncang, sekolahku terancam. Bahkan kini aku sudah berhenti sekolah karena masalah biaya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku jualan koran di stasiun dan ibuku jualan kue keliling. Walaupun demikian kamu harus tetap bersyukur, karena ada uang tambahan dari pensiunan ayah, yang dulu bekerja sebagai penjaga stasiun sebesar Rp 200.000,- perbulan.
“Zul, kamu sudah pulang?” Tanya ibuku dari dalam kamar.

Kemudian aku masuk ke kamar ibu, kedua adikku mengikuti. Kulihat wajah ibu yang sayu berbaring di keranjang reot yang udah rapuh, sedikit lebih cerah dari biasanya.

“Sudah bu. Bagaimana keadaan ibu? Oia bu, hari ini hujan cukup deras, koran Zul hanya laku setengahnya dan Zul hanya dapat keuntungan Rp 17.500,-, mana cukup untuk berobat ibu. Maafin Zul ya bu.”
“Kamu anak baik, Zul. Zul jangan khawatir, ibu sudah mulai baikan kok.”
“Bu… sekarang kak Zul sudah jadi penulis hebat loh.” Sela Aisha’.
“Penulis…” kataku heran sambil menatap Aisha’.
“Iya kak, tadi ada pak pos mengantarkan ini.” Kata Aisha sambil menyodorkan sesuatu. Kulihat… sebuah majalah yang tak asing lagi baguku, Majalah Putri dan sebuah surat menyertainya.

Tulisanku dimuat. Tulisanku di muat di majalah itu. Oh, senangnya.
Memang, aku sangat senang menulis dan secara iseng, aku mengirimkan tulisanku ke majalah itu. Kantor majalah itu terletak sekitar satu kilo meter dari stasiun kereta, dan dengan berjalan kaki aku mengirimkannya.

“Hore… besok aku akan mengambil honorariumnya di kantor majalah itu dan ibu bisa ke dokter.” Kataku dengan meluapkan kegembiraan dan kulihat bibir ibu, mengucapkan syukur pada Allah swt.

“Honorarium itu apa kak?” tanya Annisa.
“Oh, adikku yang cantik ini belum tahu honorarium ya?” kataku sambil mencubit sayang pada Annisa, ”honorarium itu adalah imbalan yang akan kita terima, kalau tulisan kita berhasil dimuat oleh majalah, penerbit atau kantor berita tertentu.”
“Nah, sekarang cepatlah mandi dan shalat asar, nanti kehabisan waktu.” Kata ibu mengingatkan.

***

Pagi harinya, dengan penuh semangat aku mendatangi kantor majalah itu.

“Pak, kalau mau mengambil honor tulisan dimana ya?” tanyaku pada resepsionis.
“Silahkan ke lantai dua, dik!” jawabnya.
Setelah kuambil honor itu, aku hendak langsung pulang. Begitu mau keluar kantor, ada seseorang yang memanggilku dari belakang.
“Hei! Kamu yang jualan koran di stasiun itu kan?” tanya seseorang dari belakang.

“Bapak! Bapak yang waktu itu duduk di samping saya kan? Mau kemana pak? Sedang apa bapak disini?” jawabku balik bertanya.
“Loh! Inikan kantor saya. Saya bekerja disini sebagai redaktur yang memeriksa semua naskah yang masuk. Kamu sendiri, sedang apa disini? Apa ada yang berlanggagan koran?”

“Tidak pak, saya cuma mengambil honor karangan saya.”
“Oh… kalau begitu selamat ya! Kamu harus lebih rajin lagi belajar, semoga kamu bisa menjadi penulis terkenal.”
“Amin. Terimakasih pak atas doanya. Oh ya pak, boleh saya tanya sesuatu.”
“Silahkan, mau tanya apa?”
“Kenapa tulisan saya berhasil muncul di majalah bapak, karena tulisan saya layak terbit atau hanya kebetulan saja?”
“Oh tentang itu, apa judul tulisanmu? Bapak lupa. Maklum, soalnya banyak tulisan yang masuk.
“Saya Tidak Ingin Cerdas Tapi Harus Cerdas.”
“Ya… ya… bapak ingat. Bapak melihat tulisanmu penuh semangat, perasaan, menggugah bagi pembaca, bapak tidak menyangka tulisan itu ditulis olehmu, sebuah tulisan yang cukup bagus mengkilap bagaikan pedang untuk seorang anak seperti kamu. Tapi harus ingat Zul, kita harus terus belajar, untuk itu asah terus pedangmu agar lebih tajam lagi, ok!”
Terima kasih pak atas nasihatnya.”

Kemudian aku pulang dengan membawa harapan baru, harapan menjadi “penulis terkenal’ yang bisa mengguncang dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

" />

Twitter Admin, Klik Ya :)

  • Gurindam M'Rana Merana karena dosa Karena dosa ku di neraka Merana dunia dan akhirat Karena mati belum tobat... fb.me/8hvJWbGGj 2 days ago

Kalender

New My Visitors


WELCOME FRIEND
visit counter

Forum WP ID

Translate This Site

Visitors Negeri Jiran

free counters

Yang SeDang BerKunjuNg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Welcome to Blog Banten Networks
-

Link Blog A-Z

A

4an25 4an25

B

bakulatz BAKULATZ

C

cahjawi Cahjawi - Coretan Bocah Jawi

D

dhahnd371 Dhand's Blog

E

syechanbaraqbahean baraqbah ⠊

F

fdhly Fdhly

G

gabanproduction Gaban Production

H

halamanputih Halamanputih

I

zonaiam iam – Zona yang sepertinya NORMAL

J

jurnalmasbro Jurnal Mas Bro

K

kangjava Kangjava

L

labkomputerku labkomputerku

M

mabrurisirampog mabrurisirampog

N

nalurisendu Nalurisendu

O

oomguru. Oomguru

P

pagi2buta pagi2buta

R

rhakateza Rhakateza's Weblog

S

setiaonebudhi setiaonebudhi

T

terlampau Terlampau Site

U

V

W

wahyuchandra wahyuchandra

X

Y

yuni1980 Yuni1980 Blog

Z

%d bloggers like this: