ADA CINTA DI ISTANBUL [Bab 5]

Oleh: Rian Hidayat Abi El-Bantany

“Waalaikumsalaaam warrahmatullahi wabarakatuh…”

Jawaban berjamaah itu menyambut salamku. Dengan timbal balik salam panjang ini, aku teringat akan ceramahnya Aa Gym di Masjid Istiklal Jakarta, bahwa jika kita memberikan ‘kebaikan setengah’, maka kita akan mendapatkan balasannya juga setengah.

Seperti halnya dalam salam, jika kita mengucapkannya pada seseorang hanya setengah salam dengan kata ‘assalamualaikum’. Maka dengan sendirinya, pendengar pasti akan menjawabnya dengan setengah pula, ‘wa’alaikumsalam’. Hanya itu, tidak lengkap. Namun jika kita ucapkan dengan lengkap, maka perhatikanlah! Jawabannya juga pasti lengkap, doanya juga pasti lengkap, maka keselamatan, rahmat dan berkah Allah SWT menjadi doa orang lain untuk kita.

Dan itu hanya dari satu orang, bisa kita bayangkan bagaimana jika doa itu diucapkan oleh lima orang yang ada di aula ini, pelajar-pelajar yang hadir dalam sohbet hari ini, tentu akan lebih banyak lagi doa itu terucap. Bisa dibayangkan pula bagaimana jika diucapkan dibanyak jamaah dan berulang kali, doa itu akan berlipat ganda. Ajaran Islam itu sungguh indah, setiap sisinya menampilkan keagungan.

Sohbet dalam bahasa Turki, bermakna perbincangan atau ceramah. Chatt dalam bahasa Inggris. Muhadatsah dalam bahasa Arab. Kata ini sering terucap dari mulutku, karena hampir setiap saat aku sohbet. Sohbet dalam pemahaman kami lebih bermakna ke perbincangan yang mengandung ilmu, penambahan keimanan dan perbincangan keagamaan atau pembacaan kitab-kitab tertentu.

Sohbetku kali ini tidak besar, hanya beberapa orang saja, mereka adalah pelajar-pelajar strata dua di Fatih University dan Istanbul University, dengan berbagai jurusan yang berbeda. Tidak semua pelajar ikut, karena sohbet kali ini lebih terarah kepada bimbingan dan evaluasi, lima orang pelajar itu masih baru di Turki dan perlu arahan bagaimana study dengan baik disini.

Lima orang itu adalah Ade Wahyudin, qory nasional hafidz al-Quran, alumni pesantren al-Jihad Bandung, ambil jurusan Ilahiyat di Istanbul University. Rezavie Ramadhan, alumni terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Reka Pamungkas, mantan ketua organisasi kepenulisan yang sangat tenar di Indonesia, alumni Universitas Negeri Jakarta. Suryadi Khalik, alumni terbaik Syah Kuala Banda Aceh, berasal dari kota dengan syariat Islam di Indonesia. Andi Wiguna, sastranya tidak diragukan lagi, aktivis kampus kenamaan di Universitas Islam Negeri Jakarta, pernah menerbitkan buku sendiri dengan modal sendiri, ambil jurusan edebiyat atau sastra Turki di Istanbul University.

Mereka semua adalah orang-orang pilihan. Orang terpilih dari kota dan universitasnya masing-masing, realita keberadaan mereka menjadi salah satu bukti lagi bahwa kepintaran bisa membawa derajat ke arah yang lebih baik, karena mereka study full dengan beasiswa, sama seperti Moulisa Eriste hanya saja dia datang lebih awal tahun lalu, semakin benarlah firman Allah dalam al-Qur’an itu, bahwa orang yang beriman dan berilmu akan diangkat beberapa derajat.

Kepintaran, kadang memang membuat orang lain iri hati, tapi iri untuk menjadi pintar seperti orang lain adalah iri yang positif jika dalam dirinya ada keinginan untuk menjadi pintar seperti orang lain, sehingga menimbulkan proses ‘mau belajar’. Akan menjadi negatif jika dalam irinya itu, hanya ada sifat iri dengki tanpa proses berusaha untuk menjadi sama seperti orang lain, serta ada niatan agar kepintaran yang ada dalam orang lain menjadi hilang.

Pertanyaannya adalah, apakah kepintaran itu diciptakan ataukah ditakdirkan? Untuk menjawab pertanyaan ini, sepertinya kita patut menyimak pernyataan seorang psikolog asal Inggris, Tony Buzan, bahwa setiap orang yang dilahirkan itu cerdas, brilian, tidak ada anak yang dilahirkan dalam keadaan bodoh. Pernyataan ini sangat mirip dengan sabda yang diucapkan dari lisan mulia Muhammad SAW bahwa setiap anak yang lahir itu dalam keadaan suci. Kata suci bisa kita terjemahkan kepada cerdas, brilian, tanpa dosa, penuh bakat dan potensi dan sebagainya. Indah sekali pernyataan rasulullah yang diucapkan beberapa abad lalu, jauh sebelum Tony Buzan dilahirkan.

Hanya saja, bagaimana kemudian kecerdasan itu muncul atau tidak, diasah atau tetap tertidur dalam diri seseorang, tergantung kepada pendidikan dan lingkungan yang mempengaruhinya. Mereka yang beruntung adalah mereka yang mendapatkan pendidikan dan dalam dirinya ada keinginan untuk menjadi cerdas, keinginan untuk semangat belajar, keinginan untuk mengasah harta terpendam dalam dirinya, yakni bakat dan potensi luar biasa yang sudah Allah tanamkan, karena cerdas juga tidak semata-mata datang tiba-tiba dengan pengecualian bagi para wali Allah. Bakat, hanyalah satu persen mempengaruhi kecerdasan Thomas Alva Edison, sisanya adalah usaha yang ia lakukan.

Tapi pintar Intelegence Quotion, atau kecerdasan pikiran, bukanlah semata-mata faktor keberhasilan seseorang, ada yang lebih menentukan menurut Ary Ginanjar dalam teori ESQ-nya, yakni Emosional Quotion, kecerdasan berinteraksi dengan orang lain, dan akan lebih menentukan lagi jika dibalut dengan Spiritual Quotion, yakni kecerdasan hati, kedekatan diri dan hati dengan Tuhan.

Jika hanya pintar intelegence, maka hasilnya adalah banyak orang yang merasa dirinya pintar, tapi tidak pintar merasakan. Dunia lebih membutuhkan orang-orang yang pintar merasakan, pintar bertindak sebagai manusia dan sekaligus makhluk Allah sebagai khalifah fil ardh, utusan Tuhan di bumi, yang menegakkan kalimat Allah di muka bumi, yang tidak hanya menggunakan akalnya semata, tapi memadukan peran hati dan firman dalam bertindak.

***

Ada kebahagiaan tersendiri bagiku melihat kaum sebangsaku. Melihat sesama orang-orang Indonesia di negeri Khalifah Usmani. Serasa melihat keluarga sendiri. Tentu karena adanya kesamaan sebagai orang-orang yang dilahirkan di bumi nusantara.

Hal ini begitu kuat kurasakan ketika pertama kali datang ke Turki dan bertemu dengan sesama orang Indonesia, aku jadi merasa tidak asing, merasa ada kawan dan menimbulkan kepercayaan diri. Bagi yang pernah merantau pasti akan merasakan hal yang sama ketika disuatu negeri atau kota perantauannya, dia bertemu dengan sesama jenisnya, contoh yang paling tepat untuk kasus ini adalah kota Jakarta, kota yang padat yang dikunjungi oleh hampir semua orang dari berbagai daerah dari segala penjuru Indonesia. Jika orang Padang bertemu dengan orang Padang juga di Jakarta, mereka akan menampakan ekspresi yang berbeda, ekspresi senang, begitu juga orang Palembang, Lampung, Banten, Jawa, Sulawesi dan berbagai daerah lainnya, bahkan tidak jarang di berbagai universitas, mereka membuat organisasi primordial yang terdiri dari orang-orang yang berasal dari daerah yang sama.

Dan untuk menampakan bahwa kami cinta bangsa kami, bangsa Indonesia, di Turkipun ada perkumpulan para pelajar Indonesia, ketua pusatnya berada di Ankara, aku hanyalah ketua cabang perwakilan Istanbul, yang menjadi penyambung lidah komunikasi dan silaturahmi dengan semua pelajar di kota lain.

***

Setelah menyimpan jaket dan berbagai atribut yang kupakai tadi di pojokan ruangan, aku duduk bersama sahabat-sahabatku. Dan sebagai orang yang cinta bahasa Indonesia, yang mempelajari bahasa Indonesia dari Sekolah Dasar sampai Universitas, dalam sohbet kamipun berbahasa Indonesia.

Demi ketenangan dalam sohbet, kami terbiasa memisahkan handphone atau alat komunikasi lainnya ke tempat lain, tidak boleh ada hal yang mengganggu, jika sohbet maka benar-benar sohbet, jika santai maka benar-benar santai, jika belajar maka benar-benar belajar, tidak mencampuradukan antara belajar sambil nyantai atau nyantai sambil belajar. Bermain sambil belajar, atau belajar sambil bermain, karena membawa dampak ketidak seriusan untuk sesuatu hal yang penting, karena belajar dianggap main-main. Bermain sambil belajar, hanya berlaku untuk anak-anak, dan kami bukanlah anak-anak.

Meski ketika sohbet handpone itu menjerit-jerit, tetap tidak boleh digunakan. Handpone dan yang lainnya harus dijauhkan. Bukan semata-mata mengganggu, tapi lebih kepada menimbulkan sikap disiplin pada aktivitas.

Dalam posisi seperti konferensi meja bundar dulu, kami memulai berbincang.

“Abi-abi, ada yang ingin saya tanyakan kepada abi-abi. Bagaimana rumah barunya? Nyaman? Ada masalah? Saya ingin tahu perkembangan setelah seminggu abi-abi tinggal di Istanbul?” Tanyaku membuka perbincangan.

“Saya tinggal di Zeytin Burnu, bersama satu orang mahasiswa asal Van, satu asal Mardin, satu asal Isparta dan satu lagi adalah mahasiswa asal Indonesia. Dari usia, saya paling tua, tapi wajah saya justru paling muda, hehe…. Alhamdulillah tidak ada masalah bi, hanya beberapa hal kecil yang tidak terlalu penting.” Ade abi menjawab pertanyaanku.

“Saya tinggal di Topçular. Di rumah saya ada masalah bi, saya tidak boleh akses internet, jika mau internetan, saya terpaksa harus pergi ke suatu tempat, padahal internet penting bagi saya untuk berkomunikasi dengan dunia luar, mengembangkan dan menambah relasi dunia sastra saya. Yang lain sih tidak ada masalah, saya cepat beradaptasi, saya tinggal berlima, dua orang dari Kastamonu, satu orang dari Malatya dan satu orang lagi dari Urfa.” Giliran Andi abi bicara.

Ilmu personality-nya memang luar biasa, ia mudah bergaul dengan orang yang baru ditemuinya, ia menamakan dirinya ‘penakluk tiga detik’, yaitu, meraih simpati dari orang lain dalam waktu singkat, tidak kurang dari tiga detik. Ia pernah kuliah dihari sabtu dan minggu di tempat lain di Jakarta, yaitu di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Kahfi al-Karim, disana ia mempelajari sifat dasar manusia, dengan memahami hal ini, dengan cepat ia bisa meraih simpati dari orang lain. Ilmu yang dia miliki, berbahaya jika berada di tangan orang yang salah, apalagi lelaki hidung belang.

Kepalaku kemudian menengok ke Suryadi Khalik, ia kemudian faham, gilirannya bicara.

“Saya tinggal di Rami bi. Rumah saya juga ada masalah bi, saya tinggal dengan orang yang tidak bisa membaca al-Qur’an, jika shalat, tentu saya jadi imam, tapi jika saya pergi mereka shalat sendiri-sendiri, menghilangkan manfaat jamaah. Yang lainnya sih tidak bermasalah, makanan, inventaris dan sebagainya semua ada. Saya tinggal dengan satu orang asal Trabzon, satu dari Erzurum, satu dari Izmir dan satu orang asing dari Mongolistan.”

Suryadi Khalik memang sensitif dengan yang berbau agama, sedikit saja ada yang menyimpang dari yang seharusnya, dia akan protes. Hal itu bisa difahami karena dia berasal kota dengan penerapan syariat Islam dan diperkuat dengan kuliahnya saat ini di jurusan ilahiyat atau teologi di Istanbul University.

Leherku bergeser lagi. Kali ini ke Reka Pamungkas abi.

“Saya tinggal di Sultan Gazi. Berlima termasuk dengan saya, satu dari Diyarbakır, satu dari Adana, satu berkulit gelap dari Orth Afrika, dan satu lagi dari Bursa. Alhamdulillah kami hidup rukun, persatuan dalam perbedaan budaya bisa dijaga, bahkan saya belajar bahasa Prancis pada Mousa Moyenga, mahasiswa asal Orth Afrika. Namun rumah sering sepi, karena hampir semua dari mereka lebih betah diluar daripada di rumah.”

Tidak aku komentari, aku langsung menengok ke Rezavie Ramadhan.
“Aku tinggal di Taşköprü, Bayrampasa. Aku juga tinggal berlima dan ada orang asingnya selain aku, Ibrahim namanya, dia asal Nigeria, kemudian satu dari Edirne, perbatasan Turki dan Yunani, satu dari Konya, kota dimana tarian sufi khas Rumi ada, dan satu lagi dari Adyaman, tempat sejarah Khalilullah Nabi Ibrahim Alaihissalam dan keluarganya.”

Istanbul memang seperti Jakarta, ada kesamaan ketika kota ini menjadi pusat perhatian, semua orang dari berbagai daerah datang ke Istanbul, bahkan Istanbul menjadi kota nomor satu dengan penduduk terbanyak di Turki, disusul Ankara, Izmir, Adana, Bursa dan kota-kota lain.

Sebutan untuk pada pendatang dari desa maupun dari berbagai daerah ini adalah Gundi, yang sebenarnya sebutan khusus untuk pendatang dari desa yang belajar di kota. Termasuk aku, aku adalah gundi di dunia ini, misafir di dunia ini, karena dunia ini akan kutinggalkan.
Begitu ramai, bukan hanya orang-orang Turki yang mengunjungi Istanbul, tapi juga turis-turis dari berbagai negara singgah disini, Istanbul seperti surga bagi pelancong, banyak keindahan disini, selain sebagai kota dari negeri benua Asia, tapi juga masuk dalam kawasan Eropa, juga banyak tempat-tempat indah di Turki, Istana Dolmabahçe, Selat Bosporus yang menyambungkan Asia dan Eropa, Sultan Ahmet Meydanı, Canakkale, Üzüngol, Bitliş, masjid-masjid besar yang terkenal dan berbagai keunikan lainnya.

Kadang aku bertanya-tanya ketika berkenalan dengan seseorang yang berasal dari kota lain, orang Istanbulnya sendiri kemana? Dimana? Atau ketika banyak orang dari berbagai daerah di Jakarta, orang Betawinya kemana? Dimana? Tentu saja mereka ada, yang pasti mereka ada dan menjadi bagian dari keramaian kota.

Setelah mendengar beberapa masukan dan evaluasi ini, aku memberikan komentar singkat:

“Di Turki, pengalaman kita satu sama lain tentu akan berbeda, dan semakin berbeda, karena kita bertemu dengan orang yang berbeda. Perbedaan itu bukan untuk membeda-bedakan, tapi untuk mempersatukan dalam perbedaan, seperti halnya bangunan sebuah gedung yang berasal dari berbagai unsur yang berbeda, saudara-saudaraku, perjuangan dakwah ini memang berat, belajar di negeri orang memang berat, jauh dari keluarga, bahasa berbeda, budaya berbeda dan banyak perbedaan lain, perbedaan kita dalam jurusan di kampus, perbedaan pengalaman kita masing-masing di rumah, perbedaan asal dan budaya, adalah untuk mempersatukan kita dalam dakwah, tapi yang pertama kali yang harus kita tundukan adalah diri kita sendiri, ego kita sendiri, tidak merasa lebih baik dari yang lainnya, kawan-kawan tentu lebih faham dari saya bagaimana memenej diri dalam study disini dengan banyak perbedaan, persiapkanlah apa yang akan dilakukan beberapa tahun ke depan, raih kesuksesan dan semoga berhasil. Sekarang mari kita charge hati dan pikiran kita dengan ilmu dan iman. Untuk tanya jawab nanti dengan Mehmet abi.”

Lalu kubuka sebuah kitab.

To be continue…

Rian Hidayat Abi El-Bantany
15 Februari 2011 Pkl 09.20 Waktu Turki.

10 Comments (+add yours?)

  1. onesetia82
    May 14, 2012 @ 15:38:01

    saya tunggu bab 6 aja deh ….😀

    Reply

  2. Abu Faris Audah
    Jul 13, 2012 @ 09:12:58

    Subhanallah,
    inshaAllah pada tahun ini kami pelajar Indonesia akan menempuh S1 di Turki. Ada yang melalui Pasiad dan MEB. Syaikh, saya mengambil jurusan yang asing untuk masyarakat tetapi popular di mata orang2 yang berjalan di titian ilahi iaitu Ilahiyat. Boleh share kepada saya apa yang harus dipersiapkan di Turki? Dan keunikan Turki?

    Reply

    • ensiklopebanten
      Jul 16, 2012 @ 02:35:41

      saya berdoa untuk antum saudaraku, semoga menjadi orang yang berguna bagi semua kalangan, semua generasi, semua agama, semuanya… selamat menempuh study… semoga sukses. ilahiyat adalah jurusan yang luar biasa, selain berguna di dunia, ilmunya akan sangat berguna di akhirat. adik sy juga sedang menempuh ilahiyat di turki. bisa komunikasi dengannya untuk lebih jelasnya. bisa cari di fb, namanya ‘Nana Suharna el-Bara’. syukran.

      Reply

  3. budi
    Aug 23, 2012 @ 06:45:42

    lanjutan nya mana kang??

    Reply

    • ensiklopebanten
      Aug 27, 2012 @ 00:46:31

      hehe… terimakasih sudah membaca kang.
      saya simpan, masih dalam tahap penulisan. insyaAllah akan diterbitkan. tapi mungkin masih lama, mengingat banyaknya aktifitas🙂

      Reply

  4. budi
    Aug 29, 2012 @ 09:47:25

    ok… saya tunggu lamjutan nya…😀

    Reply

  5. princessppmtator
    Jun 04, 2014 @ 01:14:44

    di tunggu lanjutannya🙂

    Reply

  6. Budi
    Feb 05, 2015 @ 09:32:04

    Sudah hampir 3 tahun nih tapi belum ada lagi lanjutannya….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

" />

Twitter Admin, Klik Ya :)

Kalender

New My Visitors


WELCOME FRIEND
visit counter

Forum WP ID

Translate This Site

Visitors Negeri Jiran

free counters

Yang SeDang BerKunjuNg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Welcome to Blog Banten Networks
-

Link Blog A-Z

A

4an25 4an25

B

bakulatz BAKULATZ

C

cahjawi Cahjawi - Coretan Bocah Jawi

D

dhahnd371 Dhand's Blog

E

syechanbaraqbahean baraqbah ⠊

F

fdhly Fdhly

G

gabanproduction Gaban Production

H

halamanputih Halamanputih

I

zonaiam iam – Zona yang sepertinya NORMAL

J

jurnalmasbro Jurnal Mas Bro

K

kangjava Kangjava

L

labkomputerku labkomputerku

M

mabrurisirampog mabrurisirampog

N

nalurisendu Nalurisendu

O

oomguru. Oomguru

P

pagi2buta pagi2buta

R

rhakateza Rhakateza's Weblog

S

setiaonebudhi setiaonebudhi

T

terlampau Terlampau Site

U

V

W

wahyuchandra wahyuchandra

X

Y

yuni1980 Yuni1980 Blog

Z

%d bloggers like this: