ADA CINTA DI ISTANBUL [Bab 4]

Oleh: Rian Hidayat Abi El-Bantany

Orang-orang Turki, sebagian besar adalah keturunan campuran Arab dan Eropa, berbadan besar, berkulit putih, dengan wajah penuh pesona bagi yang tak biasa melihatnya. Lalu apa yang terjadi jika turunan Arab Eropa ini dipadukan dengan negeri Maroko, maka hasilnya adalah Moulisa Eriste. Wanita yang memanggilku itu.

Terlalu sempit kata-kataku untuk menggambarkannya, semua keindahan yang diinginkan semua wanita ada padanya, wanita penuh pesona dibalut dengan keisalaman yang kuat dan prestasi membanggakan. Alumni terbaik di Maroco University dengan nilai cumlaude sejak semester awal sampai akhir, dinobatkan sebagai lulusan terbaik tahun ini, dan mendapatkan beasiswa full untuk melanjutkan studi S2 di Turki.

Sebagai ketua pelajar Indonesia perwakilan di Istanbul, aku hampir tahu setiap pelajar asing yang study di Turki, aku sering diundang dalam rangka penyambutan pelajar-pelajar yang baru datang. Dulu… saat pertama kali dia datang, saat dia mengenalkan diri di jamuan itu, aku kaget dengan prestasi yang diraihnya. Peraih medali emas olimpiade sains di Bulgaria, medali emas di Georgia dan terakhir medali emas juga, di Ankara. Dia juga penulis yang hebat, buku tentang masakan sejak zaman Rasulullah sampai Kekhalifahan Usmani yang ditulisnya, best seller di pasaran.

Keislaman dan keimanan sungguh nampak dalam dirinya, ia tak sungkan membawa al-Quran kecil ditangannya kemanapun ia pergi, membacanya jika tak sibuk dan menyimpannya jika sedang beraktifitas. Kepalanya dibalut kerudung hitam gaya anak muda Turki. Terlalu miskin diksi yang kupunya untuk menggambarkan kecantikannya. Perpaduan Turki dan Maroko, kecantikan yang dipadu dengan prestasi, memukau dan membuat iri setiap wanita yang mengenalnya.

Ah kawan… Tidak sembarang memang mendapatkan beasiswa pendidikan, harus orang-orang yang memiliki kualitas tentunya. Melihat Moulisa, atau yang akrab dipanggil Lisa Abla, aku menerawang jauh ke negeriku, betapa banyak pendamba beasiswa disana, khususnya mahasiswa untuk melanjutkan study ke luar negeri, namun malas meningkatkan kualitas diri. Betapa indah ayat Allah dalam al-Qur’an, bahwa Dia akan mengangkat beberapa derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Tanpa dicaripun, jika orang lain tahu diri kita berkualitas, ‘derajat’ itu pasti akan datang dengan sendirinya. Karena semua itu sudah difirmankan. Seperti itulah yang dialami Lisa Abla, tawaran beasiswa itu menghampirinya, bukan dia yang mencarinya.

***

Kami masuk lift bersama, awalnya aku khawatir terjepit dosa berduaan dalam lift, karena yang namanya setan, tidak pernah libur menggoda manusia. Tapi alhamdulillah Allah menjagaku untuk yang kesekian kalinya berdekatan tanpa muhrim dengan wanita. Ada Murat abi, pengantar makanan yang ikut bersama dalam lift, yang datang setengah berlari, sambil membawa Pilav Ustu dan Ayran . Aku tahu itu pasti pesanan Mehmet Abi.

Murat abi adalah pelayan restoran dilantai gedung sebelah, pengirim setia semua pesanan dari daire atau katli yang memesan. Gerakan tubuhnya gesit, langkahnya cepat, bicaranya juga cepat, dan Mehmet abi yang memesan makanan untuk banyak orang.

Akhirnya, kami bertiga dalam lift.

Aku hindari percakapan dengan Lisa Abla walau kami sudah saling kenal, hanya sekedar tanya kabar sudah cukup untuk menghilangkan kesan sombong, dan aku lebih memilih berbincang dengan Murat Abi, tentang pelanggannya yang semakin banyak, tentang kebab, corba, cigkofte dan beberapa makanan yang sering kupesan juga darinya. Jika sudah saling kenal dengan orang Turki, pelukan, jabatan dan kalimat hangat tanda persahabatan terlihat dengan jelas.

Liftnya tergolong kecil, hanya muat untuk empat orang, aku dan Murat abi berada didekat pintu, Lisa Abla di belakang kami. Tak lama, aku sudah sampai di lantai tiga tujuanku, aku keluar bersama Murat abi dan makanannya, dan Lisa Abla melanjutkan ke lantai selanjutnya, aku keluar dan kutekan bel pintu. Menunggu seseorang membukakan pintu putih di hadapanku.

Setiap rumah dan perkantoran di Istanbul yang kutahu, semuanya ada belnya, sistem yang bagus untuk bertamu atau berkunjung. Pintu gaya Eropa ini sangat bagus, desainnya menarik, beberapa pintu dilengkapi dengan sistem pengaman otomatis, jika sudah keluar dan menutup pintu, serta tidak membawa kunci, maka tidak akan bisa masuk lagi, terkunci otomatis. Layaknya perumahan modern, juga dilengkapi dengan kaca pembesar untuk melihat tamu yang datang, lampu dengan sensor tubuh gerakan manusia sebagai stop kontaknya. Di Indonesia, hal seperti ini belum lazim, namun disini ada hampir di setiap rumah.
Pintu dibuka.

Senyuman kedua yang kudapat hari ini. Beyza Gul, receptionis membukakan pintu untukku dan untuk Murat abi. Langsung kulangkahkan kaki tanpa malu, karena aku sudah terbiasa ke tempat ini. Rumah bernaung para pelajar.

“Andry abi, Mehmet abi senin icin konusmak istiyor. O simdi odada .”
“Ne var abla? ”
“Bilmiyorum .”
“Tamam, tesekkur ederim .”
“Bir sey degil .”

Dengan penuh penasaran aku pergi ke ruangannya Mehmet abi, sebuah ruangan di pojok lantai ini. Rupanya beliau sudah menungguku dari tadi bersama dua orang yang tidak kukenal. Mehmet abi adalah koordinator pendidikan wilayah Istanbul, ayah tempat kami bernaung, tempat meminta nasihat dan curhat. Dan bagiku, beliau adalah ayah kedua, ayah intelektualku, ayah yang kudapatkan di Turki. Tidak hanya kedekatan dalam pendidikan, ilmu dan amal, tapi secara psikologis, aku dan beliau sudah sangat dekat. Beliau pernah ke Indonesia dan berkunjung ke rumahku di Banten pesisir pantai Anyer. Beliaulah ketua di kantor ini, semua keputusan ada di tangannya.

“Assalmualaikum… Buyrun Andry abi, bizim sana bekleyiz.”

Setelah kujawab salamnya dan salam semut, aku diperkenalkan kepada kedua orang tersebut. Aku ingin membahas salam semut disini, yakni salam beradu pipi atau kepala secara pelan, sebagai tanda persaudaraan kepada siapa saja yang kita kenal maupun yang baru kita kenal. Budaya ini sangat kental disini. Sesama jenis tentunya. Haram hukumnya jika dilakukan pada bukan muhrim. Dinamakan salam semut karena terinspirasi dari semut, jika diperhatikan, semut seolah selalu memberikan salam kepada siapa saja yang ditemuinya. Dan ajaran salam dalam Islam adalah ajaran yang mulia, karena berisi doa untuk yang kita temui, semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah, terlimpah untuk kamu sekalian. Demikian makna singkatnya.

“Andry abi, kita kedatangan dua tamu yang mulia hari ini. Ini adalah Ahmet abi dan yang ini Hasan abi. Mereka berdua adalah esnaf dari Ankara. Mereka berkunjung ingin share tentang sistem perumahan di Ankara, dan perbandingannya di Istanbul.”

Esnaf adalah bahasa Turki yang bermakna pengusaha atau pedagang. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berdakwah dalam pendidikan tanpa pamer, secara sembunyi-sembunyi tanpa ada keinginan untuk diketahui orang lain. Mereka adalah donatur. Mereka memberikan beasiswa pendidikan untuk siapa saja yang membutuhkan, dia kenal atau tidak.

Banyak para penerima beasiswa pendidikan, tidak tahu dari mana uang yang diterimanya tiap bulan berasal. Tugas mereka hanyalah belajar, tanpa tahu sumber pendanaan. Begitu juga para donator itu, mereka ikhlas membantu tanpa pamrih. Sebuah sistem yang sudah ditata rapi dalam dakwah pendidikan.

Lalu, Mehmet abi mengenalkan diriku pada mereka.

“Ini adalah Andry abi, dia adalah ketua pelajar Indonesia di Turki perwakilan Istanbul, alumni terbaik Kharisma Bangsa International School Jakarta, peraih medali perak Indonesia Science Project Olympade 2005. Dia juga seorang penerjemah yang hebat. Banyak Risalah Nur yang sudah diterjemahnya. Dia juga pembuat kaligrafi dan gambar untuk buku-buku yang sangat indah.”

Kadang aku merasa Mehmet abi terlalu berlebih mengenalkanku. Namun rupanya ia belum selesai mempromosikanku.

“Bacaan al-Qur’annya sangat bagus, ia sering jadi imam. Andry abi adalah imam shalat yang fasih, ilmu tajwidnya sangat bagus, pengajar bagi pelajar-pelajar Turki yang belum bisa membaca qur’an. Namun kadang esmosinya masih labil. Maklum, anak muda, hehe… Oya, dia sudah seperti anakku sendiri. Kami sangat akrab.”

Kata-kata itu diucapkannya dengan ringan sambil memelukku dengan satu tangan, bergandengan seperti dua sahabat akrab, disertai dengan senyuman khasnya. Dan kami memang sangat akrab. Seperti ayah dan anak. Aku merasa ada yang melindungiku, aku merasa ada keluargaku, aku merasa aman didekatnya, meski sangat jauh dari keluargaku yang sesungguhnya. Enam belas jam perjalanan dengan pesawat ke Indonesia. Sungguh sangat jauh.

Setelah perbincangan singkat itu, aku pamit undur diri karena banyak yang menungguku di aula pertemuan. Aku keluar dari ruangan Mehmet abi, melewati receptionis dan masuk ke sebuah aula pertemuan.
Kubuka pintu perlahan dengan mengucapkan.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…”

To be continue…

Rian Hidayat Abi El-Bantany
Minggu, 06 Februari
Pkl 10.16 WIB waktu Turki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

" />

Twitter Admin, Klik Ya :)

Kalender

New My Visitors


WELCOME FRIEND
visit counter

Forum WP ID

Translate This Site

Visitors Negeri Jiran

free counters

Yang SeDang BerKunjuNg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Welcome to Blog Banten Networks
-

Link Blog A-Z

A

4an25 4an25

B

bakulatz BAKULATZ

C

cahjawi Cahjawi - Coretan Bocah Jawi

D

dhahnd371 Dhand's Blog

E

syechanbaraqbahean baraqbah ⠊

F

fdhly Fdhly

G

gabanproduction Gaban Production

H

halamanputih Halamanputih

I

zonaiam iam – Zona yang sepertinya NORMAL

J

jurnalmasbro Jurnal Mas Bro

K

kangjava Kangjava

L

labkomputerku labkomputerku

M

mabrurisirampog mabrurisirampog

N

nalurisendu Nalurisendu

O

oomguru. Oomguru

P

pagi2buta pagi2buta

R

rhakateza Rhakateza's Weblog

S

setiaonebudhi setiaonebudhi

T

terlampau Terlampau Site

U

V

W

wahyuchandra wahyuchandra

X

Y

yuni1980 Yuni1980 Blog

Z

%d bloggers like this: