Novel Bab 2: ADA CINTA DI ISTANBUL

Oleh: Rian Hidayat Abi El-Bantany

“Assalamualaikum abi…”
Suara ini membuyarkan lamunan dan pandangan mataku dari menikmati keindahan Istanbul. Saat ini, yang kupandangi adalah sisa-sisa tembok bangunan Konstantinopel yang dijaga dan utuh seperti dulu, tembok kokoh yang dibangun kaum nashrani Konstantin (Istanbul kini), untuk melindungi negerinya dari serangan bangsa lain. Konon, tembuk itu tak bisa ditembus oleh siapapun.

Namun, ada sabda sakti nabi Muhammad SAW bahwa benteng itu akan diruntuhkan oleh seorang pemimpin yang hebat yang memiliki pasukan yang hebat, sebaik-baik pemimpin yang dilahirkan, dan dia adalah Fatih Sultan Mehmet, atau Sultan Muhammad al-Fatih, pemimpin yang menjalankan kapalnya di daratan saat penaklukan itu terjadi.
“Waalaikumsalam abi… nasılsın?” Jawabku begitu kutengok ternyata yang menepuk bahuku adalah Yusuf Abi, mahasiswa Jurusan Arkeologi di Istanbul University. Usianya baru 20 tahun, tapi badannya sangat besar, berkulit putih, tinggi dan kekar. Manifestasi dari warga Turki kebanyakan. Ditambah wajah yang ganteng, hidung mancung, mata tajam bak dua bulan yang bergantung di langit.

“Iyiyim.. teşekkur ederim. Sen nasılsın?”
“Ben de iyiyim. Teşekkur ederim. Nereyesin abi?”
“Ben Eminönü’ya gitmek istiyorum. Yeni telefon alacağim. Ama, şimdi ben Topkapı’ya gitmek istiyorum, sen takıp etmeyeceksin?”
“Yok abi, ben program var Aksarayda.”
“Hm… Tamam.”

Yusuf Abi adalah mahasiswa terpandai di jurusannya. Tidak hanya diakui oleh temannya, tetapi para pembesar-pembesar di kampus itu. Sekarang dia tingkat dua. Dia adalah penentang keras Charles Darwin dengan teori Evolusi-nya, yang menyatakan manusia berasal dari monyet atau kera yang mengalami evolusi. Dia adalah pengagum Harun Yahya. Akan kuceritakan nanti padamu kawan, betapa di rumahnya banyak sekali benda-benda kuno peninggalan Islam. Dia adalah kolektor berat benda-benda bersejarah.

Di halte Topkapi, Yusuf Abi turun. Sebelum ke Eminönü, dia mau ke Musium Panorama 1453, musim indah yang berisi bukti-bukti perjuangan tentara Islam menaklukan Konstantin. Aku pernah berkunjung sekali kesana, di lantai min satu, banyak gambar-gambar dan lukisan yang menerangkan penaklukan, dipajang disemua tembok. Lantai satu berisi aksesoris indah jika ada pengunjung yang mau membeli sesuatu, dan lantai atas yang paling berkesan, pengambaran perang yang begitu nyata.

Yusuf abi turun dan kami berpisah.

***

Bus ini terus melaju, dari Topkapi lurus menuju Aksaray, pemandangan diluar sana memberikan gambaran yang jelas bagiku tentang Istanbul. Di bus ini, aku tatap beberapa orang Turki yang cantik dan ganteng. Sejak kedatanganku dulu, aku terpukau oleh keindahan fisik mereka, banyak perbedaan yang kulihat dari orang-orang di kampungku. Hitam, pendek dan kurang enerjik. Tidak semua memang, tapi kebanyakan demikian adanya. Berbeda dengan mereka yang bermata indah, kulit putih, hidung mancung dan tubuh yang mayoritas ideal.

Bahkan guruku yang pernah berkunjung ke Turki delapan tahun lalu berkomentar, jika ada lima wanita Turki lewat, maka yang terlihat adalah sepuluh wanita cantik yang lewat. Hal itu demikian adanya, aku sepakat. Sepakat bahwa wanita-wanita Turki sangat cantik, beruntung jika ada lelaki melayu sepertiku mendapat istri wanita Turki.

Bahkan ketika aku terbuai dalam dosa, saat mengikuti hawa nafsu memandangi wanita-wanita Turki yang cantik-cantik itu, aku terbayang… wanita dunia sudah cantik seperti ini. Lalu, bagaimanakah dengan makhluk-Mu yang bernama bidadari di surga sana? Yang diperuntukan untuk hamba-hamba Allah yang beruntung.

Alangkah meruginya manusia, jika tidak bisa mendapatkan rahmat Allah untuk bisa berkunjung ke surga, mendapat nikmat tiada tara, nikmat yang sesungguh-sungguhnya nikmat, daripada kenikmatan dunia yang fana.

Fana… kata ini lantas mengingatkanku bahwa semua yang ada di dunia ini tidak abadi, harta, umur, kecantikan, jabatan, semua fana. Semua ada batas akhirnya, yang cantik bisa memudar, yang ganteng bisa berkerut, yang kaya bisa miskin, yang berkedudukan bisa turun, semua fana, maka aku berbisik dalam hatiku, “apa yang kubanggakan semua fana, maka carilah yang abadi, yakni rahmat Allah.” Syekh Badiuzzaman Said Nursi, menjelaskan berlembar-lembar tentang fana dalam kitabnya, Al-Lamaat.

***

Jika diperhatikan, banyak kesamaan antara Turki dan Indonesia, sama-sama negeri yang besar, berpenduduk muslim kebanyakan, juga tentang praktek keagamaan orang-orangnya. Jika ada orang Turki yang shalih, shalihnya tak tertandingi, pengamalan keislamannya luar biasa. Namun jika sudah bejat, bejatnya juga luar biasa, bermaksiat tanpa rasa malu di depan umum. Hal ini, tak jauh beda dengan negeri asalku di ufuk timur sana.

Setelah banyak yang turun di halte Topkapi termasuk Yusuf Abi, ada satu kursi yang kosong didekat pintu turun yang tengah, dan yang berdiri hanyalah aku, akupun duduk, namun tahukah engkau kawan, yang di sebelahku adalah wanita muda Turki, bidadari Surga yang Allah turunkan, duduk disampingku. Dekat meski dengan spasi kursi.

Jika dari tadi aku hanya menceritakan dari jauh, tapi kini ada disampingku. Bidadari itu duduk disampingku. Ya ampuun… cantik fisiknya tanpa cela, semua sisi menampakan kehalusan, tanpa handbody kulitnya sudah putih halus seperti bayi-bayi Eropa yang berumur satu tahun, giginya putih tepung terigu, bibir merah mirip jawer ayam jago, matanya hitam kecoklatan kopi susu, dan ahh… semuanya indah tak terperi. Mirip Kate Winslet, pemeran Rose Dawson dalam film Titanic.

Namun sayang, dia tak berkerudung, rambut pirangnya terurai dan terjual murah dipandangi semua orang, mata indah hitamnya dipandangi semua orang, kulit halusnya terlihat dengan gratis. Diobral dengan murah. Di alis kiri bagian ujungnya ada tindik warna perak, kuku dicat sangat merah, jaket ketat hitam menutupi tubuhnya, sepatu bot tinggi khas Turki dengan bulu-bulu halus putih di ujungnya menghiasi tubuhnya. Seperti ada keinginan dalam dirinya untuk menjadi perhatian semua orang.

Duhh… sayang ya! Seandainya keindahan fisik dan keindahan hati dipadukan, alangkah sempurnanya wanita itu.

Doel Sumbang pernah menyinggung dalam lagunya, “naha hirup bet dimumurah, geblek hirup daek jadi runtah.” (kenapa hidup meski dijual murah, bodoh hidup mau jadi sampah).

Seandainya setiap makhluk menjaga mahkotanya, menjaga permata berharganya dan mengeluarkannya tepat pada waktunya nanti, sungguh indah hidup terasa. Dan para wanita, tentu lebih tahu mahkota mulia yang harus dijaganya. Begitu juga dengan laki-laki.

***

Di halte selanjutnya, yakni halte Capa Sehremini, ada beberapa penumpang baru masuk, termasuk seorang nenek bertongkat, langsung terbersit dalam benakku sebuah ladang amal yang akan menambah pundi-pundi pahalaku. Aku langsung berdiri, mempersilahkan si nenek itu duduk, selain menolong si nenek, aku juga berusaha menghindari dosa jika terus dekat dengan bidadari dunia tadi. Sekali tepuk dua lalat, aku jadi teringat peribahasa ini yang diajarkan Guru Madrasah Aliyahku di pelosok Banten sana.

Ada keyakinan kuat dalam diriku, bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan, akan dibalas oleh yang Maha Kuasa, meski kebaikan yang kita lakukan itu sangat kecil. Dan aku juga yakin, kebaikan yang kita lakukan, tak mesti terbalas kepada diri kita, bisa juga kepada keluarga kita, kepada orang yang kita sayangi, teman kita atau kepada siapa saja yang dekat dengan kita.

Si nenek itu duduk ditempatku, dan aku kembali berdiri. Aku merasa lebih baik berdiri daripada duduk dalam kondisi seperti ini. Penghindaranku ini, sama seperti menundukan pandangan dari hal yang bukan muhrim dan berakibat dosa dalam ajaran Islam. Nabi Musa Alaihissalam pernah mencontohkan ketika pergi ke daerah Madyan, beliau menolong dua wanita kakak beradik yang kesulitan memperoleh air dari sumur karena ramai kaum lelaki, setelah beliau membantu kedua wanita itu, beliau mengantarnya pulang dan memilih berjalan di depan kedua wanita itu untuk menghindari dosa pandangan. Semoga Allah memberikan semua taufiq dalam setiap langkah kita. Amin.

Dan memberikan tempat duduk dengan kasusku yang demikian, aku kategorikan sebagai bagian dari menjaga pandangan. Tak lama kemudian, aku sampai di halte Aksaray, dan bersiap dengan program pertamaku hari ini. Hari jumat, hari sayyidul ayyam, sebaik-baiknya hari.

To be continue…

Istanbul
Rian Hidayat Abi El-Bantany

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

" />

Twitter Admin, Klik Ya :)

  • Gurindam M'Rana Merana karena dosa Karena dosa ku di neraka Merana dunia dan akhirat Karena mati belum tobat... fb.me/8hvJWbGGj 2 days ago

Kalender

New My Visitors


WELCOME FRIEND
visit counter

Forum WP ID

Translate This Site

Visitors Negeri Jiran

free counters

Yang SeDang BerKunjuNg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Welcome to Blog Banten Networks
-

Link Blog A-Z

A

4an25 4an25

B

bakulatz BAKULATZ

C

cahjawi Cahjawi - Coretan Bocah Jawi

D

dhahnd371 Dhand's Blog

E

syechanbaraqbahean baraqbah ⠊

F

fdhly Fdhly

G

gabanproduction Gaban Production

H

halamanputih Halamanputih

I

zonaiam iam – Zona yang sepertinya NORMAL

J

jurnalmasbro Jurnal Mas Bro

K

kangjava Kangjava

L

labkomputerku labkomputerku

M

mabrurisirampog mabrurisirampog

N

nalurisendu Nalurisendu

O

oomguru. Oomguru

P

pagi2buta pagi2buta

R

rhakateza Rhakateza's Weblog

S

setiaonebudhi setiaonebudhi

T

terlampau Terlampau Site

U

V

W

wahyuchandra wahyuchandra

X

Y

yuni1980 Yuni1980 Blog

Z

%d bloggers like this: