Novel Bab 1: ADA CINTA DI ISTANBUL

Oleh: Rian Hidayat Abi El-Bantany

***

Ocak, atau yang popular dengan Januari adalah puncak musim dingin di Turki, bahkan sebagian Turki dihujani salju, seperi di Bursa, Erzurum, dan Ankara. Aku masih beruntung tinggal di Istanbul, kota ini memang tidak begitu akrab dengan salju, namun mesra dengan dingin, lima sampai tujuh derajat celcius.

Sebagai orang yang dilahirkan di negeri beriklim tropis, dengan udara yang tidak begitu panas seperti gurun dan tidak begitu dingin seperti kutub, hawa dingin seperti di Istanbul ini tentu memerlukan adaptasi yang khusus bagiku, meski aku telah tinggal empat tahun disini, aku masih tak tahan jika musim dingin tiba.

Beberapa jaket yang dulu kubawa dari Indonesia, tak mempan pada angin Istanbul. Dengan uang pemberian orangtua, aku beli jaket Turki seharga 95 tele atau sekitar Rp 617.500, jaket anti dingin yang tebal, yang jika kugunakan di negeriku, mungkin orang akan memandang aneh padaku. Jaket tebal ini telah menjadi sahabat setia yang melindungiku dari hembusan dingin dan salju.

“Andry abi, bügün program var mı? ” Tanya Ömert abi yang melihatku sedang dandan di depan cermin. Ömert adalah mahasiswa kedokteran tingkat akhir di Istanbul Üniversity, kampus yang telah memberiku banyak ilmu, pengalaman dan tentu saja, sahabat, kampus ini muncul jauh sebelum aku dilahirkan, 1453 M.

“Evet, ben program var, sohbet arkadaşlarımla. Aksaray’a gideceğim, saat dokuz bücük geciyor. ”
“Tamam, iyi sanslar abi. ”
“Teşekkur ederim. Görüsürüş abi. ”
“Sonra görüsürüş. ”

Kata ‘abi’ selalu diselipkan dalam panggilan kepada sahabat laki-laki atau siapa saja sebagai tanda kehormatan, artinya kakak, atau ‘abla’ untuk perempuan, artinya sama, kakak. Berbeda jika diartikan dalam bahasa Arab, yang berarti bapakku.

Dalam pergaulan sehari-hari, banyak istilah yang digunakan untuk menghormati seseorang, misalnya, hocam (guruku), hoca effendi (guru yang mulia), abi atau abla (kakak), dostum, (sahabat baikku), canım yang bermakna ‘kekasihku’, dan sebagainya. Panggilan-panggilan seperti ini menghangatkan pergaulan. Kata canım, meskipun terdengar mesra, kata ini sering digunakan untuk menyebut sahabat, murid atau kenalan akrab.

Dari buku Personality Plus, aku tahu sebuah ilmu dalam memanggil seseorang, alangkah lebih baiknya jika dibarengi dengan pemanggilan ‘nama’nya, seperti Mustafa abi, Mehmet abi dan sebagainya, menyelipkan nama-nya itu sangat penting. Dale Carnegie pernah mengatakan dalam sebuah moment, “Suara yang paling indah di dunia adalah nama seseorang.”

Di musim dingin seperti ini, yang paling enak tentu saja tinggal di rumah, dikelilingi pengangat ruangan, ditemani teh Turki yang terkenal enak, sambil online atau menonton film. Tapi aku harus konsekuen dengan program yang kubuat sebagai mahasiswa tertua dari Indonesia, sebagai ketua perkumpulan pelajar dari Indonesia, dan program hari ini adalah sohbet atau berkumpul bersama dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang ada di Istanbul, di suatu tempat dan diisi dengan program penampahan ilmu, seperti membaca, diskusi atau tanya jawab dan sebagainya.

Kuambil sepatu pantopel warna hitam yang sudah lama menemaniku. Sepatu yang dulu kubeli dengan uang beasiswa dari sponsor pendidikanku. Setelah sepatu selesai kupakai, kulihat lagi wajahku dicermin, barangkali ada rambut yang bukan pada tempatnya, syal yang menceng, atau sekedar melihat wajah yang sudah lama tak dibelai orang tua. Oh ibu.., betapa aku merindukanmu di desa.

Kulihat wajahku dengan rambut pendek rapi khas guru, kulit sawo matang khas orang-orang Melayu, hidung yang pas-pasan tidak seperti hidung orang-orang Turki yang mancung, dan yang kusuka adalah mataku, yang orang bilang sangat tajam sebagai ciri orang yang berkarakter kuat.

***

Aku tinggal di sebuah apartemen lantai dua di bilangan Yıldırım Mahalli, Ali Fuat Başgil-Istanbul. Sudah empat tahun aku tinggal disini, sebuah apartemen berlantai empat yang menjadi saksi perjalanan intelektualku selama di Turki. Banyak kenangan kudapat disini.

Rumah-rumah di Istanbul dan daerah-daerah lainnya sangat mirip, bangunan apartemen yang dihuni beberapa keluarga, satu lantai satu atau dua keluarga, sistem perumahan seperti ini sangat efektif untuk menghemat lahan, selain itu tidak menimbukan iri dengki diantara sesama, karena bangunannya sama. Berbeda dengan bangunan rumah di Indonesia, orang Turki menyebut perumahan seperti itu dengan kata Mustakil.

Kubuka kunci dan kutarik gagang pintu…

Wuuzzzz….

Tanpa komando, angin dingin langsung menyerbuku, merusak dandananku, menyabet sisiran rambutku, membelai jaketku dan menusuk tulang-tulangku. Lebih dingin membuka pintu daripada membuka kulkas. Aku teringat kata-kata itu sejak salah satu dari 19 orang datang ke Turki dan berkomentar demikian tentang hawa Turki yang lima derajat celcius.

Memang benar ucapannya, diluar rumah adalah kulkas tanpa dinding, pendingin tanpa remot control, apalagi Januari adalah puncak musim dingin. Bahkan di Bursa, Turki bagian asia, salju tebal sudah melingkupinya sejak minggu lalu, min 15 derajat celcius.

Kurapatkan jaket dengan kedua tanganku, segera mengambil langkah seribu, dan melaju membaur bersama dingin dan orang-orang Turki yang sudah terbiasa dengan dingin. Ada dua hal yang masih sulit aku beradaptasi disini, yaitu dingin yang kadang sampai mengeluarkan cairan tak di undang dari hidungku, dan langkah kaki orang-orang Turki yang terkenal gesit. Aku masih sering tertinggal jika berjalan bersama. Dan budaya jalan kaki begitu kental disini.

Setelah berjalan sekitar lima menit, aku sampai di halte Ali Fuat Basğil.

“Abi, saat kaç? ” Tanya seorang lelaki setengah baya tiba-tiba.
“Şimdi, saat sekize ceyrek geciyor. ”
“Teşekkur ederim. ”
“Bir şey değil abi. ”
“Adım Murat, adınız ne? ” Tanya orang itu bersahabat, mengajak berkenalan.
“Benim adım Andry. Endonezyalıyım. ”
“Oh, Endonezya. Büyük memleket. Müsliman. Müsliman. Arkadaş. Bizim arkadaş… ” nadanya dengan penuh semangat, itu yang kusuka dari orang-orang Turki, jiwa dan ekspresinya yang selalu terlihat energik dan ceria.
“Evet, müsliman kardeştir. ” Jawabku singkat.

Setelah beberapa saat, bus tujuan Aksaray akhirnya datang juga. Tujuan akhir dari bus yang kunaiki ini adalah Eminönü, daerah yang cukup terkenal di Istanbul, tapi aku akan berhenti di Aksaray, tempat sohbetku kali ini.

Tingkat kesadaran orang-orang Turki sangat tinggi, hal itu terlihat dengan adanya antrian sebelum menaiki bus, siapa yang datang lebih dulu ke halte, dia yang akan naik duluan, diikuti berbanjar oleh penumpang selanjutnya, tidak ada yang merokok di tempat-tempat umum seperti bus, tempat belanja, kantor dan sebagainya, tertib berlalu lintas dan banyak contoh lainnya.

Sepertinya, Jakarta harus belajar pada Istanbul dalam mengelola transportasi, jarang sekali terjadi macet disini, macet akan terjadi hanya jika turun hujan di waktu sore atau menjelang maghrib.

Dan yang paling berkesan adalah Tramvay atau kereta bawah tanah anti macet, kereta ini rutin setiap lima menit sekali melewati stasiun, kereta eksekutif harga ekonomis, tidak ada penjual di dalam kereta, yang mondar mandir memadati ruangan dan tidak ada keributan atau teriakan kernet yang meminta ongkos, atau penumpang yang menawar karena merasa jaraknya dekat, semua teratur dengan sistem pembayaran yang popular disini, akbil. Yakni system pembayaran dimuka, si penumpang mengisi terlebih dahulu akbil-nya sebelum berangkat dan tinggal menekannya atau menempelkannya pada alat disamping sopir atau tempat-tempat khusus yang telah disediakan. Semua teratur rapi.

Bus sudah terlihat dikejauhan, berwarna biru dengan nomor 36 KE, bus yang tidak asing bagiku, dengan tulisan Özel Halk Ötöbüsü dikaca depannya, jika ada tulisan ‘Özel’ pada sebuah kendaraan, itu pertanda yang mengelolanya adalah pihak swasta. Bukan pemerintah. Bus ini berukuran besar untuk ukuran Metro Mini di Indoensia, panjangnya mencapai 10 meter, namun ada bus yang lebih panjang lagi, dua atau tiga bus yang digabung menjadi satu. Jika diperhatikan, bus dengan ukuran pendek untuk trayek jarak dekat dan bus panjang untuk trayek jarak jauh.

Bus ini dilengkapi dengan pintu otomatis yang dikendalikan oleh sopir. Pintu masuk berada di depan, dipintu sebelah tempat duduk sopir, sedangkan pintu keluar di tengah dan di belakang bus. Di pintu keluar ada tombol otomatis untuk penumpang. Jika ingin turun di suatu halte, tinggal menekan tombol tersebut, dan sopir akan membukakan pintunya.

Satu lagi yang membedakan kendaraan-kendaraan Asia dan Eropa, Istanbul terbagi dua, Istanbul bagian Asia dan Istanbul bagian Eropa, aku tinggal di Istanbul bagian Eropa. Untuk kendaraan-kendaraan Eropa letak kendali kendaraan berada di kiri, sang sopir berada di kiri, hal ini juga terlihat pada beberapa film Eropa yang menggambarkan kendali kendaraan berada di kiri.

Setelah antri sebentar, aku masuk dan kulihat tidak ada kursi kosong. Kursi bus ini didesain dengan rapi, ada sedikit jarak antar kursi, sehingga jika ada penumpang laki-laki dan perempuan berdekatan, tubuh mereka tidak akan menempel, sehingga wudhu bisa dijaga, keharmonisan bisa tercipta dan yang pasti hak masing-masing bisa terjaga.

Ditengah-tengah bus ada ruang kosong sepanjang tiga meter, disediakan khusus untuk penumpang yang berdiri. Karena penuh, aku merapat ke samping ditengah bus dan mencari pegangan. Kulihat Istanbul dari kaca bus, deretan apartemen yang rapi, bangunan sisa tembok Konstantinopel yang tetap dirawat, tata kota yang rapi, makam yang indah dengan bendera disetiap makam, desain jalanan yang bagus, jembatan yang membentang diselat Marmara, jembatan biru yang terbentang di Bosphorus dan berbagai keindahan Istanbul yang akan kuceritakan nanti padamu kawan.

Tiba-tiba…

Ada yang menepuk bahuku dari belakang.

To be continue…

Istanbul, Januari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Forum WP ID

Translate This Site

Visitors Negeri Jiran

free counters

Yang SeDang BerKunjuNg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Welcome to Blog Banten Networks
-

Link Blog A-Z

A

4an25 4an25

B

bakulatz BAKULATZ

C

cahjawi Cahjawi - Coretan Bocah Jawi

D

dhahnd371 Dhand's Blog

E

syechanbaraqbahean baraqbah ⠊

F

fdhly Fdhly

G

gabanproduction Gaban Production

H

halamanputih Halamanputih

I

zonaiam iam – Zona yang sepertinya NORMAL

J

jurnalmasbro Jurnal Mas Bro

K

kangjava Kangjava

L

labkomputerku labkomputerku

M

mabrurisirampog mabrurisirampog

N

nalurisendu Nalurisendu

O

oomguru. Oomguru

P

pagi2buta pagi2buta

R

rhakateza Rhakateza's Weblog

S

setiaonebudhi setiaonebudhi

T

terlampau Terlampau Site

U

V

W

wahyuchandra wahyuchandra

X

Y

yuni1980 Yuni1980 Blog

Z

%d bloggers like this: