Novel Bab 3: ADA CINTA DI ISTANBUL

Oleh: Rian Hidayat Abi El-Bantany

Kutekan tombol disamping pintu bus bagian tengah, lalu kata ‘duracak’ yang berada di atas kepala sopir bus, tepat di tengahnya berubah warna menjadi merah, itu pertanda ada penumpang yang akan turun, aku dan beberapa penumpang lainnya akan turun, termasuk Kate Winslet-nya Turki, bidadari dunia pengumbar kecantikan fisik itu, juga turun.

Begitu pintu dibuka, dinginnya masih sama, hembusannya masih sama, dan segera kurogoh sarung tangan dikantung jaket bagian kiri, kupakai untuk menahan dingin, lalu topi kupluk juga ikut menghiasi dandanan badutku ini. Penampilanku terlihat ‘keren’ dengan atribut-atribut ini, tampak seperti penyanyi Rep Afrika berkulit hitam.

Dari stasiun Aksaray aku jalan kaki menuju jembatan penyeberangan selebar lima meter, berada disamping halte Aksaray, terbuat dari beton yang kokoh, dengan tiga penyangga besar di ujung dan tengahnya, jembatan ini menjadi saksi bisu aktifitas warga Turki, tempat hilir mudik pejalan kaki.

Bagian tengah dari jempatan ini terhubung ke stasiun tramvay. Jika ada yang mau naik tramvay, tinggal masuk dan menekan akbil pada tempat yang sudah disediakan disetiap pintu masuk stasiun, lalu dalam waktu singkat ia bisa berada dimana saja. Tramvay, kendaraan anti macet yang disenangi banyak orang. Akan kuceritakan nanti padamu kawan, pengalaman mengesanku di dalam tramvay.

***

Lalu aku terus jalan menuju lorong-lorong apartemen perumahan orang-orang Turki. lorong ini sering dilalui banyak orang. Kulihat ke atas apartemen, ada beberapa tingkat menjulang ke langit, orang Turki menyebutnya ‘Katlı atau Daire’ . Kulihat jam ditanganku, jam sepuluh tepat, atau jam tiga sore waktu Indonesia. Jam sepuluh, masih tergolong pagi di Turki. Diwaktu pagi seperti ini, jalanan masih terlihat sepi, orang-orang Turki itu masih asyik dengan selimutnya, dan akan bangun ketika dhuhur nanti.

Mereka masih asyik tidur diwaktu pagi, kebiasaan orang-orang Turki setelah shalat subuh adalah tidur lagi, sebuah kebiasaan buruk namun menjadi budaya disini. Aku, orang yang dilahirkan di negeri ketimuran dengan budaya yang berbeda, awalnya sangat risih dengan kebiasaan ini. Aku sering tak bisa memejamkan mata jika mataku sudah tercuci, apalagi dengan air wudhu shalat subuh. Itu awalnya, namun akhirnya, akupun tercebur juga mengikuti budaya ini. Dengan terpaksa tentunya, karena mau beraktifitas juga belum banyak ‘lawan’, karena kebanyakan mereka akan memulai aktifitas jam sebelas atau dua belas siang.

Saat aku berkunjung ke Aleksandria, Kairo dan beberapa kota di Mesir tujuh bulan yang lalu, ada kesamaan budaya antara orang Turki dan orang Mesir tentang tidur pagi ini. Banyak warga Aleksandria yang tidur lagi setelah shalat subuh. Kebiasaan tidur orang-orang Turki setelah subuh ini juga didorong oleh kebiasaan tidur malam yang sering dini hari, jam dua belas malam atau jam dua malam kebanyakan dari mereka baru akan tidur. Maha suci Allah yang menciptakan perbedaan bukan untuk perpecahan.

Aku terus berjalan dan menikmati pemandangan…

Jika diperhatikan dengan seksama, kebanyakan apartemen lantai satu di Istanbul dijadikan sebagai tempat usaha, toko roti, buah dan sayuran, handphone, pakaian, dan beberapa toko lainnya banyak menghiasi bangunan-bangunan ini. Dan hal ini terlihat hampir disetiap sudut kota. Dan lantai dua sampai atas, dijadikan sebagai tempat tinggal sebagaimana yang pernah kuceritakan di awal padamu kawan.

Maka jika kawan ingin berbelanja, tidak sulit disini, lantai bawah apartemen tempat tinggal kita dan disekitarnya, banyak toko yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Tidak mesti jauh-jauh ke pasar.
Setelah sepuluh menit berjalan, aku sampai ditempat tujuan. Gedung bertingkat enam. Tempat pertemuan pelajar-pelajar Indonesia di Istanbul dan tempat koordinasi relasi hubungan antar dua negara, Indonesia dan Turki. Tempat yang dulu pertama kusinggahi ketika datang ke Turki. Historia, nama itu terpajang sangat besar di depan pintu masuk.

***

Begitu tiba di depannya, aku disambut pintu otomatis dan seorang penjaga yang ramah, entah berapa jam dia tersenyum setiap harinya kepada setiap tamu yang datang, seorang penjaga yang mulai terlihat kerut-kerut di wajahnya, namun masih berumur pendek, tiga puluh depalan tahun.

Aku punya pengalaman menarik tentang usia. Pernah aku ditanya ketika aku berkenalan dengan seorang teman asal Antalya, kenapa wajah-wajah orang Indonesia terlihat awet muda sedangkan umurnya sangat banyak. Itu betul kawan. Hal ini kadang sering jadi bahan perbincangan ketika bertemu teman baru. Mereka jika disuruh menebak usiaku, mereka kebanyakan menjawab…

“On dokuz. ”

Padahal usiaku dua puluh tiga tahun. Jauh lebih muda dari usia sebenarnya, itu menurut mereka. Wajah-wajah orang Indonesia akan terlihat lebih muda disini, bahkan aku yang berusia dua puluh tiga tahun, sering dianggap Öğrenci Lisesi , atau pelajar SMU. Kadang aku merasa senang juga jika dianggap lebih muda.

Sebaliknya kawan, kau akan kaget ketika berkenalan dengan mereka dan menanyakan usia mereka. Wajahnya sangat boros, atau cepat terlihat pertumbuhannya, namun usianya sangat sedikit. Aku pernah terpana ketika berkenalan dengan salah satu orang Turki asal Adyaman, ketika itu dia minta aku menebak berapa usianya. Kukatakan dengan entengnya…

“Otuz. ”

Wajahnya langsung berubah jadi muram, dia mungkin tersinggung karena usianya baru sembilan belas tahun. Tapi kutebak tiga puluh tahun. Wajah boros tapi usia sedikit. Itu konsensusnya. Itu kesimpulannya.
Dan ketika aku ditanya, apa rahasianya mengapa orang-orang Indonesia terlihat awet muda. Dengan tegas kujawab.

“Kami, orang-orang Indonesia, orang yang berbudaya ketimuran, tidak terbiasa tidur setelah shalat subuh, karena itu dilarang Rasulullah, kami tidak tidur larut malam, kami terbiasa beraktifitas dipagi hari dan tidur dimalam hari, kami terbiasa mandi setiap hari, kami tidak minum air saat masih panas, kami makan nasi bukan roti, mungkin itu yang membuat wajah kami terlihat awet muda.’

Kenapa kalimat ‘mandi setiap hari’ aku selipkan dalam jawabanku, hal itu karena orang-orang Turki yang kutahu, jarang mandi. Bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka mandi dalam seminggu. Kadang tiga kali, kadang empat kali, tidak lebih dari itu. Yang mereka lakukan sebelum beraktifitas hanya gosok gigi dan cuci muka. Tapi aneh juga memang, meski hanya dengan gosok gigi dan cuci muka, wajah mereka nampak seperti orang yang keramas tiga puluh menit di kamar mandi, tidak nampak iler dibibir, tidak nampak ‘sesuatu’ di ujung mata, dan yang pasti mereka tetap terlihat enerjik.

Lainnya halnya dengan orang-orang di negeriku, jangankan tidak mandi, mandi saja terkadang terlihat seperti belum mandi, penampilannya beda. Hal itu bisa difahami sebenarnya, karena alam kedua negeri ini sangat berbeda.

Lagi-lagi aku, Andry Nur Hidayat, orang yang dilahirkan di tanah Jawa, tanah leluhurku, ikut kebiasaan ini, yakni mandi hanya tiga atau empat kali dalam seminggu. Aku mengikuti budaya mereka, dengan satu alasan tentunya. Yakni, aku musafir disini, bukan aku yang memaksakan budayaku, tapi aku menyesuaikan dengan budaya mereka.
Dulu, saat pertama kali aku datang ke Turki dan tinggal di apartemen di Ali Fuat Başğil, aku membawa budayaku tanpa filter, mandi dua kali dalam sehari, minggu pertama imam rumahku membiarkan kebiasaanku, tapi minggu kedua akhirnya ia bicara juga, melarangku mandi setiap hari, ketika kutanya mengapa. Jawabnya singkat.

“Kami biasa mandi tiga atau empat kali seminggu.”

“Saya juga biasa mandi setiap hari.” Kujawab juga dengan singkat,
Tapi akhirnya terungkap juga alasan yang sebenarnya, yakni karena air disini biayanya sangat mahal, tidak hanya gas, tapi juga air meski bayar. Dan mahal. Seperti PDAM di Indonesia. Namun jika dirupiahkan, tentu akan lebih mahal lagi. Beruntunglah jika ada orang yang tinggal dekat sumber air dan tanpa harus membayar. Oleh karena itu, aku bangga tinggal di desa dipelosok Banten sana. Bahkan dari info yang kudengar, di Timur Tengah sana, air lebih mahal dari minyak bumi.
Maka wajarlah jika mereka jarang mandi.

Wajah yang kelihatan cepat ‘dewasa’ mungkin juga disebabkan alam yang ada. Jika dianalogikan dengan kayu, jika kayu itu sering kehujanan, dia akan lembek, dan jika sering kepanasan, dia akan kering. Dan itu yang sering terjadi dibumi Turki ini, jika sudah dingin, dinginnya sungguh sangat, dan jika sudah panas, panasnya juga sangat. Lagi-lagi patut bersyukur rakyat nusantara yang diberi alam indah, tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin, orang Turki menyebutnya ‘ılık’ .

Analisis ini diperkuat dengan fisik mereka yang mengalami akselerasi, yang cantik, meski cantiknya seperti Kate Winselt, tapi pudarnya juga cepat, begitu juga kaum adamnya, meski gantengnya seperti Leonardo DiCaprio, tapi pudarnya juga cepat, usia tiga puluhan di Turki, jika dibawa ke Indonesia, akan terlihat seperti lima puluh tahunan. Maka makin kuatlah ajaran fana dalam Islam, bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, merugilah orang yang membangga-banggakan materi, fisik, kedudukan dan yang berbau dunia, dan meninggalkan ajaran agamanya.

***

“Assalamualaikum Andry abi, nasılsın? Hm… sen bügün çok yakısıklı. ” Suara penuh persahabatan disertai senyum tiga dimensi menyambut kedatanganku di kantor Historia ini, sambil menyanjungku.

“Waalaikumsalam abi… iyiyim, teşekkurler. Sen nasılsn? Sen de çok yakısıklı. ” kujawab dengan disertai senyuman juga, dan beberapa obrolan ringan dengannya.

Hanya menaiki beberapa anak tangga, aku berjalan menuju lift yang tepat berada di depan pintu masuk otomatis, disamping lift tersebut ada ruangan kecil untuk shalat, di atas pintunya tertulis kata ‘mescit’, artinya masjid atau mushala dalam bahasa Arab, tempat orang sujud atau tempat orang shalat dalam bahasa Indonesia.

Ketika kulihat tombol-tombol lift yang setia menempel disana, tulisan mesgul berwarna merah, itu artinya lift sedang sibuk atau penuh, jadi aku harus bersabar menunggu beberapa menit. Dan setelah tiga menit menunggu, akhirnya lift itu turun menuju ke lantai tempat aku berdiri saat ini. Liftnya beda dengan lift kebanyakan pada umumnya, pintunya benar-benar seperti pintu, ada gagang pintunya, dan kutarik gagang pintu itu dengan segera.

Sebelum aku masuk, dan sambil memegang gagang pintu lift, tiba-tiba dengan setengah berlari.
“Beklemek! Abi… bekleğim!”

Suara perempuan itu membuatku ingin menggerakkan leher. Lalu kutengok. Mahasiswi asal Maroko. Bidadari kedua yang kutemui hari ini.

To be continue…

Rian Hidayat Abi El-Bantany
Pkl 11.25 Waktu Turki.

About these ads

2 Comments (+add yours?)

  1. RFC (Rian Fans Club)
    Apr 21, 2012 @ 02:05:46

    kuren banget ceritanya… jadi pengen tau keadaan sebenarnya disana.. pengen ngerasain saljunya.. bisa bikin es serut geratis.. ^_^
    dan yg paling penasaran sama Kate Winslet-nya Turki.. hehe :P

    Reply

    • ensiklopebanten
      Apr 23, 2012 @ 01:48:45

      haha… di semarang juga banyak bi… ablalar… mirip kate winslet… targetin bi, ke turki. jangan ke yg dekat2 (malaysia and singapur), itu mah kayak keluar pulau jawa :)

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

" />

Kalender

New My Visitors


WELCOME FRIEND
visit counter

Forum WP ID

Translate This Site

Visitors Negeri Jiran

free counters

Yang SeDang BerKunjuNg

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Welcome to Blog Banten Networks
-

Link Blog A-Z

A

4an25 4an25

B

bakulatz BAKULATZ

C

cahjawi Cahjawi - Coretan Bocah Jawi

D

dhahnd371 Dhand's Blog

E

syechanbaraqbahean baraqbah ⠊

F

fdhly Fdhly

G

gabanproduction Gaban Production

H

halamanputih Halamanputih

I

zonaiam iam – Zona yang sepertinya NORMAL

J

jurnalmasbro Jurnal Mas Bro

K

kangjava Kangjava

L

labkomputerku labkomputerku

M

mabrurisirampog mabrurisirampog

N

nalurisendu Nalurisendu

O

oomguru. Oomguru

P

pagi2buta pagi2buta

R

rhakateza Rhakateza's Weblog

S

setiaonebudhi setiaonebudhi

T

terlampau Terlampau Site

U

V

W

wahyuchandra wahyuchandra

X

Y

yuni1980 Yuni1980 Blog

Z

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,753 other followers

%d bloggers like this: